Tiba-tiba saya teringat sebuah kalimat yang pernah saya baca sewaktu
kuliah arsitektur. "God works in details". Tentu waktu jaman dulu kalimat
ini berkaitan dengan detail dalam sebuah bangunan. Tetapi, sewaktu saya
merenungkan kalimat ini, ternyata juga bisa berlaku dalam kehidupan kita.
Beberapa hari belakangan, saya memperhatikan beberapa detail dari
rutinitas saya dari pagi sampai malam. Bangun pagi, dilanjutkan dengan
segala rutinitasnya, untuk bersiap menuju kantor. Pukul 12 beristirahat 1
jam untuk kemudian kembali bekerja sampai sekitar pukul 19 sambil
menunggu lalu lintas sedikit lowong. Sampai di rumah, bersih-bersih dan
akhirnya beristirahat. Hal itu berulang 5 hari dalam seminggu. Kalau
melihat secara garis besar, tentu itu semua menjemukan. Tidak sedikit
teman yang menyatakan alasan mereka keluar kantor adalah jemu bekerja 9-5
terus menerus. Jadi mereka memilih berwiraswasta karena jam yang lebih
longgar.
Saya pernah ada dalam dua situasi tersebut. Memang bekerja tetap, bila
kita hanya melihat rutinitasnya saja, akan sangat menjemukan. Tetapi
bukan berarti wiraswasta tidak. Ketika beban kerja menumpuk, kita pun
dapat terjebak rutinitas. Yang berbeda adalah kalau wiraswasta kita dapat
menentukan sendiri kapan harus beristirahat sementara kerja kantoran
tidak sefleksibel itu.
Saat ini saya menjadi karyawan freelance di sebuah konsultan di Jakarta.
Walau freelance, saya tetap punya jam kantor - kecuali saat beban kerja
berkurang maka saya boleh masuk dan pulang kapan pun saya mau. Nah, di
tengah itu, saya pun sempat terjebak rutinitas. Tapi satu hal, Tuhan
tetap memberi hiburan bagi saya dalam detail waktu yang ada. Saat saya
pergi dan terjebak kemacetan Jakarta, kadang saya memanfaatkan hal ini
untuk "curhat" apapun dengan Tuhan. Saat saya beristirahat, Tuhan berikan
hal yang kadang saya posting di blog ini. Saat saya pulang, kadang Tuhan
berikan hal tak terduga yang sering membuat saya tersenyum sendiri.
Inilah mengapa saya teringat kalimat "God works in details". Tuhan
membuat detail kehidupan saya lebih bernilai. Ia tidak begitu saja
melepaskan saya dalam rutinitas. Ia berikan banyak hal yang bagi saya
adalah bumbu penyedap kehidupan sehingga saat-saat rutin tidak terasa
sudah saya lewati. Bahkan kadang saya tidak merasakan bahwa pekerjaan di
kantor adalah sebuah rutinitas. Saya pun lebih menikmati waktu pergi,
terjebak kemacetan, antri makan di kantin, dan saat-saat pulang (baik
menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum yang penuh sesak).
Bagi saya, detail itu menjadi rangkaian indah yang sayang untuk kita
lewati begitu saja.
Karena itu, bagi mereka yang sudah bosan terjebak rutinitas, mari lihat
detail yang ada. Minta Tuhan membuka mata dan hati kita untuk dapat
melihat apa yang telah Ia sediakan dalam rutinitas itu. Mungkin Ia mau
kita bertindak di luar rutinitas. Ketika hal itu terjadi, jangan abaikan.
Saya percaya kita pun akan heran dan tercengang melihat bagaimana Tuhan
bekerja mewarnai hidup ini.
Tuhan Yesus memberkati.

