Thursday, December 18, 2008

God Works in Details

Beberapa waktu yang lalu saya berbagi Firman Tuhan dengan seorang teman.
Tiba-tiba saya teringat sebuah kalimat yang pernah saya baca sewaktu
kuliah arsitektur. "God works in details". Tentu waktu jaman dulu kalimat
ini berkaitan dengan detail dalam sebuah bangunan. Tetapi, sewaktu saya
merenungkan kalimat ini, ternyata juga bisa berlaku dalam kehidupan kita.

Beberapa hari belakangan, saya memperhatikan beberapa detail dari
rutinitas saya dari pagi sampai malam. Bangun pagi, dilanjutkan dengan
segala rutinitasnya, untuk bersiap menuju kantor. Pukul 12 beristirahat 1
jam untuk kemudian kembali bekerja sampai sekitar pukul 19 sambil
menunggu lalu lintas sedikit lowong. Sampai di rumah, bersih-bersih dan
akhirnya beristirahat. Hal itu berulang 5 hari dalam seminggu. Kalau
melihat secara garis besar, tentu itu semua menjemukan. Tidak sedikit
teman yang menyatakan alasan mereka keluar kantor adalah jemu bekerja 9-5
terus menerus. Jadi mereka memilih berwiraswasta karena jam yang lebih
longgar.

Saya pernah ada dalam dua situasi tersebut. Memang bekerja tetap, bila
kita hanya melihat rutinitasnya saja, akan sangat menjemukan. Tetapi
bukan berarti wiraswasta tidak. Ketika beban kerja menumpuk, kita pun
dapat terjebak rutinitas. Yang berbeda adalah kalau wiraswasta kita dapat
menentukan sendiri kapan harus beristirahat sementara kerja kantoran
tidak sefleksibel itu.

Saat ini saya menjadi karyawan freelance di sebuah konsultan di Jakarta.
Walau freelance, saya tetap punya jam kantor - kecuali saat beban kerja
berkurang maka saya boleh masuk dan pulang kapan pun saya mau. Nah, di
tengah itu, saya pun sempat terjebak rutinitas. Tapi satu hal, Tuhan
tetap memberi hiburan bagi saya dalam detail waktu yang ada. Saat saya
pergi dan terjebak kemacetan Jakarta, kadang saya memanfaatkan hal ini
untuk "curhat" apapun dengan Tuhan. Saat saya beristirahat, Tuhan berikan
hal yang kadang saya posting di blog ini. Saat saya pulang, kadang Tuhan
berikan hal tak terduga yang sering membuat saya tersenyum sendiri.

Inilah mengapa saya teringat kalimat "God works in details". Tuhan
membuat detail kehidupan saya lebih bernilai. Ia tidak begitu saja
melepaskan saya dalam rutinitas. Ia berikan banyak hal yang bagi saya
adalah bumbu penyedap kehidupan sehingga saat-saat rutin tidak terasa
sudah saya lewati. Bahkan kadang saya tidak merasakan bahwa pekerjaan di
kantor adalah sebuah rutinitas. Saya pun lebih menikmati waktu pergi,
terjebak kemacetan, antri makan di kantin, dan saat-saat pulang (baik
menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum yang penuh sesak).
Bagi saya, detail itu menjadi rangkaian indah yang sayang untuk kita
lewati begitu saja.

Karena itu, bagi mereka yang sudah bosan terjebak rutinitas, mari lihat
detail yang ada. Minta Tuhan membuka mata dan hati kita untuk dapat
melihat apa yang telah Ia sediakan dalam rutinitas itu. Mungkin Ia mau
kita bertindak di luar rutinitas. Ketika hal itu terjadi, jangan abaikan.
Saya percaya kita pun akan heran dan tercengang melihat bagaimana Tuhan
bekerja mewarnai hidup ini.

Tuhan Yesus memberkati.

Terserah Tuhan

Entah sudah berapa kali kita mengucapkan atau mendengar hal ini. Saya
yakin kita sering mendengar kalimat ini. Tetapi, seringkah kita
melakukannya dengan sungguh-sungguh?

Dua hari yang lalu, kalimat ini kembali terngiang di telinga saya. Kali
ini disertai sebuah pertanyaan. Apakah ketika saya mengatakan "Terserah
Tuhan" itu sudah benar-benar tulus atau hanya tanda "lempar handuk"
(keputus asa an)? Seringkali saat saya berkata demikian, itu tanda
keputus asa an sehingga belum seberapa lama berserah, saya kembali
memilih berjalan dengan cara sendiri. Pemicunya banyak hal. Mulai dari
ketidaksabaran sampai ketidakpuasan akan kondisi yang sepertinya tidak
ada perubahan.

Berkata "Terserah Tuhan" punya konsekuensi yang besar. Itu berarti kita
menyerahkan apa yang ada di depan kita ke dalam tangan Tuhan. Tuhan lah
yang menentukan langkah kita, dan bukan kita dengan segala perencanaan
yang telah dibuat. Kita harus melihat contoh saat Tuhan menuntun Bangsa
Israel keluar dari tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian. Saat itu,
kasarnya, perjalanan Bangsa Israel benar-benar "terserah Tuhan". Bahkan
saat mereka harus kembali ke padang gurun pun, Bangsa Israel harus tunduk
pada jalan yang telah Tuhan berikan.

Ini lah konsekuensi itu. Kalau sudah mengatakan semua "terserah Tuhan",
maka kita pun harus rela dengan jalan yang Tuhan berikan. Ketika Tuhan
tuntun kita menuju "Laut Teberau" dan dibelakang ada "tentara Mesir"
yang menyerang, jangan bersungut. Ketika kita kekurangan makanan di
tengah padang gurun, jangan mengumpat. Ketika ada musuh menyerang,
jangan gentar. Ketika kita bersungut-sungut kepada Tuhan, yang telah
kita serahi untuk memimpin jalan di depan, maka kita mempertanyakan
kredibilitas Tuhan sebagai pemimpin kita. Lihat dalam Alkitab bagaimana
Tuhan menjawab sungut-sungut Israel. Selain melepaskan Israel dari
segala yang mereka permasalahkan, Ia juga menghukum mereka yang
mempertanyakan kredibilitas-Nya.

Jadi, ketika kita menyerahkan semua kepada Tuhan lewat perkataan
"Terserah Tuhan", ingat bahwa itu adalah penyerahan penuh. Seperti
seorang hamba yang tunduk pada tuannya, kita pun harus siap dalam kondisi
seperti itu. Siap selalu setiap saat, tidak bersungut saat harus ada
dalam kondisi yang tidak menyenangkan, dan terlebih lagi, kita harus
mampu mendengar suara-Nya.

Tuhan memberkati kita semua.

Wednesday, November 12, 2008

Semangat Perubahan

Ya, dunia sedang mengalami sebuah perubahan. Mulai dari krisis finansial
global sampai dengan presiden baru Amerika. Semua orang berbicara mengenai
semangat perubahan. Juga mengenai slogan "Yes we can" yang dipakai Obama
Bagi beberapa orang, momemtum ini dipakai untuk mempertanyakan semua hal.
Tidak ketinggalan di Indonesia, kita pun mendengar banyak hal diangkat
mulai dari presiden jalur independent sampai sosialisasi Undang-Undang
Anti Diskriminasi. Tampaknya memang dunia ini sedang digoncangkan dalam
segala aspek.

Saya teringat khotbah Gembala Pembina GBI Sukawarna Bandung - Pdt. David
TW - pada hari Minggu kemaren. Beliau berbicara mengenai Kerajaan yang
Tidak Tergoncangkan.

Ibrani 12: 25-28
25. Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau
mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak
luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari
sorga?
26. Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan
janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja,
melainkan langit juga.
27. Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang
dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang
tidak tergoncangkan.

Tuhan akan menggoncangkan dua hal yang selama ini "menjepit" manusia.
Tidak hanya bumi tempat manusia berdiri, tetapi juga langit yang selama
ini menaungi manusia. Ketika dua hal yang memegang menusia diguncang, apa
lagi yang dapat menahan manusia untuk kokoh berdiri? Mereka yang selama
ini mengandalkan langit dan bumi akan kehilangan pegangan dan pasti
terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Bagaimana dengan kita? Kita, anak-anak Tuhan, menerima Kerajaan Yang Tidak
Tergoncangkan. Ketika keadaan sekitar kita bergoncang, satu hal yang harus
kita sadari adalah "We are standing on the solid ground". Iman kita ada di
tanah yang tidak hanya subur, tetapi juga kuat untuk membuat pohon tidak
gampang tercabut dari tempat ia berdiri. Bahkan tanah itu pun tetap
memberi yang kita butuhkan untuk tetap berbuah.

Ingat film "Twister"? Di flm ini kita bisa melihat keganasan angin taufan.
Angin ini menerjang semua yang ada di jalurnya tanpa pandang bulu. Semua
yang tidak kuat tertanam di tanah akan dihisapnya lalu diputar-putar untuk
kemudian dilemparkan ke langit. Sungguh pemandangan yang mengerikan
sesudah angin itu berlalu.
Keadaan sekarang, bagi saya, mirip dengan hal itu. Angin perubahan yang
melanda dunia akan menghisap semua yang berkaitan dengannya. Pada saat
itu, semua yang tidak tertanam dengan kuat di tanah akan tercabut dan
diombang-ambingkan oleh angin perubahan.
Itu mengapa saat sekarang kita harus lebih "menanamkan" diri dalam tanah
kita yaitu Tuhan Yesus. Akar-akar kita harus semakin dalam sehingga tidak
mudah tercabut. Semakin kita tertanam, maka resiko tercabut semakin
berkurang. Dengan demikian, orang dunia akan dapat melihat bahwa anak-anak
Tuhan mempunyai pelindung yang kuat, penjaga yang tidak pernah terlelap,
yaitu Tuhan Yesus sendiri.

Matius 7
24. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia
sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
25. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah
itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
26. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak
melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di
atas pasir. 27. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Tuhan Yesus memberkati.

Sunday, November 9, 2008

Step Brother

Hari ini saya menonton fim "Step Brother" yang dibintangi oleh Will Ferel.
Film ini bercerita mengenai pernikahan seorang duda dengan janda. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan; salah satunya adalah sama-sama memliki anak yang tinggal dengan mereka. Uniknya, kedua anak ini memiliki persamaan
juga yaitu berumur sekitar 40 an dan sama-sama tidak bisa berlaku seperti orang pada umur tersebut - bahkan tingkah laku mereka sama seperti anak umur 15 tahun an.

Dari film ini, ada 2 hal yang saya dapat.
1. Kedewasaan
Film ini memperlihatkan bahwa umur tidak menentukan kedewasaan. Menjadi dewasa adalah pilihan masing-masing pribadi. Walau tidak bisa juga dipungkiri kalau ada kasus dimana seseorang dipaksa menjadi dewasa (kita tidak akan mengupas hal ini sekarang).
Hal yang sama berlaku pula untuk anak-anak Tuhan. Tuhan mau kita menjadi dewasa. Mengapa? Karena Ia mau mempunyai partner kerja yang sepantar. Hanya orang dewasa yang mampu bekerja di ladang Tuhan. Mereka yang belum dewasa, dengan kata lain masih anak-anak, kalau dipaksa bekerja di ladang tentu tidak akan mampu menahan sengatan matahari dan beban pekerjaan.
Tuhan rindu kita menjadi dewasa untuk melanjutkan pekerjaan-Nya di bumi ini. Walau demikian, Tuhan tetap beri kebebasan bagi kita untuk memilih. Mengapa? Karena proses pendewasaan adalah hal yang berat. Akan ada banyak tantangan, ujian, dan cobaan yang harus dihadapi. Mereka yang hanya ikut-ikutan tidak akan bertahan sampai akhir. Hanya mereka yang siap akan mampu mencapai garis finish. Karena itu, Tuhan tetap mau kita memilih tanpa paksaan. Orang yang memilih menjadi dewasa, meraka lah yang akan Tuhan pakai dengan luar biasa.

2. Comfort Zone
Dulu kita sering mendengar singkatan "PW" yang artinya "Posisi Wuenak". Ini menggambarkan keadaan dimana kita merasa nyaman. Atau ingat sebuah slogan iklan "Kalau sudah duduk, lupa berdirl"?
Semua itu menggambarkan "comfort zone" yang biasanya selalu dicari orang.
Berkaitan dengan hal "dewasa" yang kita bahas sebelumnya, "zona kenyamanan" adalah salah satu hal yang dapat menghalangi orang menjadi dewasa. Dalam film "Step Brother" zona nyaman kedua anak tersebut adalah keberadaan mereka bersama orang tuanya di rumah masing-masing. Ketika kedua orang tua mereka memutuskan tinggal serumah, sang anak merasa zona nyamannya terancam. Mereka dipaksa untuk menerima pihak lain. Tapi lewat inilah mereka mengalami perubahan.
Hal yang sama berlaku juga dalam proses pendewasaan. Zona nyaman adalah salah satu rintangan besar yang harus dilewati ketika kita memilih menjadi dewasa.

Apa sih zona nyaman? Bagi saya, itu berarti suatu keadaan permanen dimana kita merasa itulah "rumah" kita - dimana kita bisa selalu berlindung saat ada ancaman atau rintangan. Karena tanpa ancaman, zona ini dapat membuat kita sangat aman. Saya jadi teringat film "Wall-E" dimana penduduk bumi, yang mengungsi, berada dalam sebuah pesawat. Tubuh mereka menjadi gemuk karena tidak dimanfaatkan dengan baik.
Zona nyaman dapat membuat kita seperti itu. Kita merasa sangat nyaman dengan sekeliling kita sehingga tidak mau keluar dari tempat tersebut.
Saat merenungkan ini, saya teringat pada kata "kota perlindungan". Dalam perjanjian lama, Tuhan menyuruh orang Israel membuat kota-kota perlindungan bagi pembunuh. Di sana, mereka tidak akan dibunuh. Tetapi begitu keluar dari kota tersebut, mereka dapat diburu kembali.
Lalu saya pun mendapati bahwa tempat perlindungan ternyata bukanlah sebuah tempat permanen bagi anak Tuhan. Ketika Daud dikejar Saul, ia harus berlindung sesaat. Ketika keadaan aman, ia pun keluar sampai akhirnya ia naik tahta menjadi raja Israel.
Bayangkan apabila Daud memilih untuk tetap berlindung sampai Saul wafat. Ia tidak akan bertemu Abigail (I Sam. 25:14-42). Atau ia tidak akan bertempur dengan orang Amalek dan membagi hasil jarahannya dengan tua-tua di Yehuda (I Sam. 30:26). Ia tidak akan mendapat banyak hal dengan hanya diam dalam tempat perlindungan.
Demikian pula kita. Dengan hanya diam dalam "Comfort Zone", perkara besar yang menjadi bagian kita bisa terlewat dan bisa jadi akhirnya diberikan oleh Tuhan bagi orang lain.
Apakah mungkin seorang tentara berperang hanya dalam bunker? "The war is out there". Seorang tentara harus keluar lubang persembunyian untuk dapat mencapai kemenangan. Harta bangsa-bangsa tidak akan menjadi bagian mereka yang hanya diam menunggu. Harus ada upaya yang dilakukan. Dan itu semua diawali dengan keluar dari "zona kenyamanan" kita.

Dari dua hal di atas, jelas bahwa ada relasi antara kedewasaan dan zona nyaman. Orang yang rindu melakukan perkara besar dalam Tuhan terlebih dahulu harus dewasa secara rohani. Setelah ia dewasa, ia pun harus melangkah keluar dari zona nyamannya. Tanpa bekal dewasa, resiko mati konyol di luar zona nyaman akan lebih besar. Apalagi musuh senantiasa mengintai. Lengah sedikit, kita akan jatuh karena kita ada dalam medan pertempuran dimana zona nyaman akan sulit didapat. Hanya mereka yang dewasa rohani yang dapat menemukan tempat perlindungan - yaitu Tuhan sendiri.

Mazmur 94:22
(ITB)  Tetapi TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku.
(KJVR)  But the LORD is my defense; and my God is the rock of my refuge.

Mazmur 46:8
(ITB)  (46:8) TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela
(KJVR)  The LORD of hosts is with us; the God of Jacob is our refuge. Selah.

Tuhan Yesus memberkati.

Monday, October 13, 2008

Penjaga RUU Pornografi

Silahkan baca dulu link di bawah ini

Polisi Moral Yahudi

mmmm. Mungkin mirip sama "Polisi Syariah" di Aceh.

Jadi ingat film "Persepolis" yang pernah diputar di MYCinema. Bagaimana sekelompok orang berjalan-jalan dan mengawasi orang-orang supaya hidup sesuai "standar" yang telah ditetapkan.

Nah, kalau si RUU Pornografi itu jadi UU, mungkin orang-orang kayak begini bakal keliaran di jalan raya Indonesia. Saya sendiri teringat pada "Penegak Disiplin" yang pernah berjalan-jalan di Jakarta dengan rompi oranye menyala-nya. Kalau dulu sih, mereka ini suka terlihat disiplin sekali. Terlihat ya. Karena kadang malah mereka melanggar peraturan lalu lintas.

Jadi pengen bikin tulisan lagi nih.... :)

Friday, October 10, 2008

Christmas Gift dari Insight Unlimited


Ini satu gift yang berbeda dari Christmas Gift yang pernah ada sebelumnya.
Karena dibuat oleh sebuah perusahaan rekaman rohani, maka tentu saja isinya seputar dunia musik rohani.
Kalau dilihat pilihan album yang ditawarkan, cukup menggiurkan juga. Apalagi dikemas dengan box yang cukup representatif. Tentu sangat baik untuk diberikan kepada relasi bisnis atau keluarga.

Harga? Variasi.
Ada 2 jenis yaitu Pre Order Price dan Regular Price yang berlaku untuk semua paket.
Pre Order Price adalah harga pemesanan awal yang lebih murah dibanding Regular Price. Pemesanan awal ini berlaku mulai dari 15 September sampai 31 Oktober. Sedangkan Regular Price mulai 1 November sampai 15 Desember.

Ada yang tertarik memesan? Silahkan hubungi saya via japri ya.

Terimakasih untuk telah membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Sunday, October 5, 2008

Lebih Dari Mengampuni

Kata-kata ini muncul saat saya merenungkan film "Munich" karya Steven Spielberg.
"Munich" adalah sebuah film yang menceritakan bagaimana pemerintah Israel membunuh anggota kelompok "Black September" yang menghabisi 11 orang atlet Israel dalam Olimpade Munich 1972 (Operasi "The Wrath of God"). Tindakan tersebut berdasar atas "Lex Talionis" yang secara gamblang diartikan mata ganti mata untuk sebuah tindakan pembalasan.
Dalam Alkitab, kita akan menemukan kata-kata tersebut dalam Keluaran 21 : 22-25, Imamat 24 : 19-22, Ulangan 19 : 18-21, dan Matius 5 : 38.
Sebuah komentar mengenai "Lex Talionis" mengatakan bahwa hukum ini dapat menghancurkan kedamaian dan mengandung benih kebencian, balas dendam, dan ketidakmurah hatian. Karena itu, apabila dijalankan, maka berpotensi membuat keadaan sosial masyarakat menjadi hancur.
Tentu saja hal tersebut menarik perhatian saya. Bagaimana mungkin Tuhan menurunkan hukum yang penuh kebencian itu kepada bangsa Israel? Bahkan, paling tidak sampai Operasi The Wrath of God dilaksanakan, bangsa Israel masih teguh memegang "Lex Talionis". Kematian 11 orang dibalas dengan pembunuhan anggota organisasi yang bertanggungjawab atas peristiwa tersebut.
Tapi, mari kita lupakan itu. Mengapa? Karena kita hidup dalam sebuah Perjanjian Baru dengan Tuhan. Sebuah perjanjian dimana kita diselamatkan oleh kasih karunia di dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan bukan oleh usaha kita sendiri.
Mari kita lihat komentar Tuhan Yesus mengenai "Lex Talionis". Dalam Matius 5 : 39-48, Tuhan meruntuhkan prisip mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Mungkin topik ini seringkali kita dengar dikhotbahkan dari atas mimbar. Tetapi seberapa sering kita melakukan? Apakah kita sering memberikan pipi kiri kepada orang yang telah menampar pipi kanan kita?
Saya sendiri baru merenungkan arti "memberikan pipi kiri" saat sekarang sedang menulis hal ini. Ada dua pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya,"Mengapa Tuhan mau kita memberikan pipi yang satu lagi? Apakah tindakan memaafkan saja tidak cukup?"
Ternyata memang memaafkan musuh saja tidak cukup. Kita perlu melakukan lebih dari itu. "Tapi, buat apa Tuhan?"
Memaafkan bukanlah hal yang mudah. Banyak orang susah untuk memaafkan karena masih ada "bara" kekesalan yang dipendam dalam hati. Dan jujur, kadangkala kata maaf diucapkan untuk menyelesaikan perselisihan dengan cepat. Walau kata maaf sudah terucap, tidak jarang hati kita masih menyimpan "bara" ketidakpuasan. Apa efeknya? Efek tercepat adalah hubungan antar personal yang tidak terpulihkan dan tidak mustahil akan ada hal lain seperti kita menyebarkan benih kebencian terhadap orang itu di tempat lain sehingga ada seseorang yang terpengaruh hal tersebut.
Saya yakin Tuhan mau kita menyelesaikan semua masalah dengan tuntas. Tuhan, yang menyelidiki kita sampai relung hati yang terdalam, tidak dapat kita bohongi dengan sebuah pernyataan mengampuni yang hanya lip-service . Dia mau hati kita pun mengampuni dengan sempurna.
Roma 12:9, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.”

Karena itu diperlukan sebuah tindakan yang mencerminkan hal tersebut.
Itu mengapa Tuhan minta kita memberikan pipi kiri. Sebuah pipi yang belum ditampar untuk menunjukkan kerelaan hati kita.
Itu mengapa Tuhan minta kita memberikan jubah kepada mereka yang menginginkan baju kita. Mengapa jubah? Jubah bukanlah hal yang primer menutupi tubuh kita. Jubah seseorang melambangkan status pemakainya. Jubah bicara mengenai kehormatan diri karena tanpa jubah seseorang dapat sama dengan yang lain. Tuhan mau kita pun melepaskan "pride" kita ketika mengampuni.
Itu mengapa Tuhan minta kita berjalan dua kali lipat jauhnya kepada orang yang memaksa kita berjalan 1 mil. Tuhan mau kita melakukan pengorbanan saat mengampuni.

Sekarang pilihan ada di tangan kita. Apakah tetap "mata ganti mata" atau "memberi pipi kiri"?
Saya ingat sebuah perkataan. Ketika orang-orang berpegang pada prinsip "mata ganti mata", maka dunia ini akan penuh dengan orang buta. Semua pihak rugi dan tidak ada kedamaian. Tetapi ketika "pipi kiri diberikan", maka mata musuh kita akan tetap ada untuk melihat bagaimana kasih Kristus itu nyata dalam hidup ini. Dan biar Tuhan bekerja dalam diri mereka untuk mengubah musuh kita menjadi orang yang juga mau mengasihi. Bukankah satu musuh terlalu banyak sementara seribu teman terlalu sedikit?

Tuhan Yesus memberkati.

Tuesday, February 5, 2008

Terus berdoa dan jangan putus asa

Luke 18:1
(ITB)  Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
(KJVR)  And he spake a parable unto them to this end, that men ought always to pray, and not to faint;

Satu hal yang dapat membuat kita berhenti untuk meminta adalah putus asa. Ketika sepertinya sudah tidak ada harapan, maka kita seringkali berhenti untuk berharap akan sesuatu.
Tuhan Yesus mengerti akan hal itu sehingga Ia memberikan perumpamaan dalam Lukas 18 mengenai hakim dan janda. Menariknya, dari awal pembukaan, Lukas mencatat alasdan Tuhan memberikan perumpamaan tersebut. Dalam Alkitab King James' Version, kita dapat lebih jelas menangkap maksudnya yaitu terus berdoa dan tidak putus asa. Jadi, dalam meminta sesuatu, kadangkala tidak hanya dibutuhkan aksi tindakan saja. Kita pun harus mempersiapkan mental sehingga pada saat ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, kita dapat terus ada di jalur.
Bahkan di ayat 8, Tuhan mempertanyakan apakah masih ada iman di dalam kita karena putus asa berkaitan erat dengan hilangnya iman. Karena itu, kalau mau melihat perkara kita diselesaikan Tuhan, ada 2 kunci yang harus kita miliki. 1 doa dan yang ke 2 tidak putus asa.

Tuhan Yesus memberkati

Saturday, February 2, 2008

Rendah Hati Ketika Memikul Beban

Mazmur 55:22  (55:23) Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Pagi ini Tuhan berikan 2 kata yaitu "rendah hati" dalam renungan saya. Rendah hati yang Ia mau saya renungkan adalah ketika saya sedang menanggung sebuah beban.
Bagi saya, beban dapat berupa apa saja. Mulai dari kewajiban sampai sebuah penugasan. Semua itu harus dilakukan dengan semaksimal mungkin sehingga kadangkala menjadi beban yang dapat mengganggu pemikiran.
Ketika sebuah beban menjadi begitu berat, yang seringkali tidak langsung saya sadari, tidak jarang muncul hal-hal yang sifatnya mengasihani diri sendiri. Saya merasa sedang menanggung semuanya seorang diri tanpa seorang pun mau peduli.
Tapi renungan pagi ini mengajarkan saya satu hal. Tuhan mau saya rendah hati pada saat menanggung beban yang berat. Ketika saya merasa beban sudah terlampau berat lalu saya berkeluh kesah, itu sama dengan saya merasa kekuatan saya sendiri yang menanggung beban tersebut. Bukankah itu sama dengan kesombongan? Padahal, kalau saya mau ingat kembali kalau Tuhan membuka tanganNya bagi mereka yang berbeban berat maka tidak perlu keluh kesah itu keluar.
Karena itulah Tuhan ingatkan saya mengenai rendah hati. Saya harus ingat bahwa selama ini Tuhan lah yang menopang saya. Bahkan ketika saya menopang beban berat, karena Tuhan menopang saya, secara otomatis Tuhan pun menopang beban yang sedang saya pikul. Ilustrasinya seperti ini. Seorang penjual sayur pikulan hendak pergi ke pasar dengan mempergunakan kendaraan umum. Apakah ketika ia di dalam kendaraan yang membawa ia dan barang jualannya ia terus menerus memikul beban tersebut? Tentu tidak. Ia pasti meletakkan beban tersebut pada tempat yang kosong di mobil lalu duduk dengan tenang. Kalau dia terus memikul bebannya tentu akan kita anggap bodoh.
Demikian juga dengan kasus saya. Karena itu saya mau belajar meletakkan beban pada Tuhan Yesus. Tidak dengan sombongnya membawa beban itu terus lalu berkeluh kesah, tetap dengan rendah hati menempatkan semuanya di bawah kaki Tuhan kita.

Thanks God. Haleluya.

Tuesday, January 1, 2008

Menunggu

Bagi saya, menunggu adalah satu hal yang sedapat mungkin dihindari. Saat menunggu, seringkali kondisi sekitar menentukan mood kita. Menunggu pacar berbelanja sambil kita duduk di café tentu lebih menyenangkan daripada menunggu gajian sementara kondisi keuangan sudah menipis. Yang satu menunggu dengan suasana santai, sementara yang satu lagi dalam situasi terhimpit. Kalau kita bisa memilih, pasti kita mau menunggu dalam situasi santai. Tetapi tentu tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita.

Ada satu kunci yang kita butuhkan dalam menunggu. Kunci tersebut bernama "Jaminan Kepastian". Jaminan ini yang akan membuat kita mau menunggu walau kadangkala situasi menghimpit. Ketika dalam situasi keuangan terjepit, kita mau menunggu waktu gajian karena kita tahu ada kepastian bahwa gaji tersebut akan datang pada waktunya. Tanpa jaminan kepastian, akan sangat susah menanti sesuatu. Dan bagi banyak orang, lebih baik menunggu sesuatu yang pasti daripada yang masih tidak jelas.

Dalam Lukas 2 : 21-40, kita dapat melihat 2 orang yang sedang menanti. Seorang bernama Simeon dan yang lain bernama Hanna. Mereka sedang menanti kehadiran Mesias yang dijanjikan untuk membebaskan Israel. Saya mencatat beberapa hal khusus dalam penantian mereka.
1. Simeon dan Hana sudah berumur. Walau tidak ditulis secara jelas umur Simeon, catatan yang saya dapat menuliskan bawa ia adalah pimpinan Sanhendrin. Sementara Hana berumur 84 tahun. Mereka tetap menunggu Mesias dalam umur setua itu. Pengharapan mereka tidak pudar. Menunggu membutuhkan kesabaran. Kadang di saat waktu semakin lama, kita semakin tidak sabar menunggu. Simeon dan Hana tidak demikian. Mereka tahu bahwa Allah telah berjanji, bahkan Simeon mendapat janji tersebut secara pribadi dari Roh Allah, dan kalau Allah berjanji Ia pasti menggenapi (ada jaminan kepastian).

2. Simeon dan Hana dekat dengan Allah. Tidak dalam artian jarak saja, mereka pun punya hati yang dekat dengan Allah. Dan kedekatan hati ini mereka jaga sehingga mereka bisa menyambut Yesus. Dalam ayat 27 dinyatakan Simeon datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus sementara dalam ayat 37 ditulis bahwa Hanna tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan ia beribadah siang dan malam dengan berpuasa serta berdoa. Hati yang melekat pada Tuhan membuat mereka mengetahui hal yang bagi banyak orang tersembunyi. Mereka mendapat kesempatan langka yaitu bisa menyambut kedatangan Yesus di dunia.

Dari dua hal tersebut bisa ditarik sebuah kesimpulan. Dalam menunggu, kita butuh tuntunan Roh Kudus. Seringkali kita dipengaruhi keadaan kita atau pun sekeliling kita. Tetapi lewat Simeon dan Hana, Tuhan berikan contoh bagaimana orang yang melekat padaNya bisa mendapat apa yang mereka nantikan. Kesabaran dan tuntunan Roh Kudus menjadikan mereka sebagai orang yang menuai apa yang ditabur.

Tuhan Yesus memberkati.