Film ini bercerita mengenai pernikahan seorang duda dengan janda. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan; salah satunya adalah sama-sama memliki anak yang tinggal dengan mereka. Uniknya, kedua anak ini memiliki persamaan
juga yaitu berumur sekitar 40 an dan sama-sama tidak bisa berlaku seperti orang pada umur tersebut - bahkan tingkah laku mereka sama seperti anak umur 15 tahun an.
Dari film ini, ada 2 hal yang saya dapat.
1. Kedewasaan
Film ini memperlihatkan bahwa umur tidak menentukan kedewasaan. Menjadi dewasa adalah pilihan masing-masing pribadi. Walau tidak bisa juga dipungkiri kalau ada kasus dimana seseorang dipaksa menjadi dewasa (kita tidak akan mengupas hal ini sekarang).
Hal yang sama berlaku pula untuk anak-anak Tuhan. Tuhan mau kita menjadi dewasa. Mengapa? Karena Ia mau mempunyai partner kerja yang sepantar. Hanya orang dewasa yang mampu bekerja di ladang Tuhan. Mereka yang belum dewasa, dengan kata lain masih anak-anak, kalau dipaksa bekerja di ladang tentu tidak akan mampu menahan sengatan matahari dan beban pekerjaan.
Tuhan rindu kita menjadi dewasa untuk melanjutkan pekerjaan-Nya di bumi ini. Walau demikian, Tuhan tetap beri kebebasan bagi kita untuk memilih. Mengapa? Karena proses pendewasaan adalah hal yang berat. Akan ada banyak tantangan, ujian, dan cobaan yang harus dihadapi. Mereka yang hanya ikut-ikutan tidak akan bertahan sampai akhir. Hanya mereka yang siap akan mampu mencapai garis finish. Karena itu, Tuhan tetap mau kita memilih tanpa paksaan. Orang yang memilih menjadi dewasa, meraka lah yang akan Tuhan pakai dengan luar biasa.
2. Comfort Zone
Dulu kita sering mendengar singkatan "PW" yang artinya "Posisi Wuenak". Ini menggambarkan keadaan dimana kita merasa nyaman. Atau ingat sebuah slogan iklan "Kalau sudah duduk, lupa berdirl"?
Semua itu menggambarkan "comfort zone" yang biasanya selalu dicari orang.
Berkaitan dengan hal "dewasa" yang kita bahas sebelumnya, "zona kenyamanan" adalah salah satu hal yang dapat menghalangi orang menjadi dewasa. Dalam film "Step Brother" zona nyaman kedua anak tersebut adalah keberadaan mereka bersama orang tuanya di rumah masing-masing. Ketika kedua orang tua mereka memutuskan tinggal serumah, sang anak merasa zona nyamannya terancam. Mereka dipaksa untuk menerima pihak lain. Tapi lewat inilah mereka mengalami perubahan.
Hal yang sama berlaku juga dalam proses pendewasaan. Zona nyaman adalah salah satu rintangan besar yang harus dilewati ketika kita memilih menjadi dewasa.
Apa sih zona nyaman? Bagi saya, itu berarti suatu keadaan permanen dimana kita merasa itulah "rumah" kita - dimana kita bisa selalu berlindung saat ada ancaman atau rintangan. Karena tanpa ancaman, zona ini dapat membuat kita sangat aman. Saya jadi teringat film "Wall-E" dimana penduduk bumi, yang mengungsi, berada dalam sebuah pesawat. Tubuh mereka menjadi gemuk karena tidak dimanfaatkan dengan baik.
Zona nyaman dapat membuat kita seperti itu. Kita merasa sangat nyaman dengan sekeliling kita sehingga tidak mau keluar dari tempat tersebut.
Saat merenungkan ini, saya teringat pada kata "kota perlindungan". Dalam perjanjian lama, Tuhan menyuruh orang Israel membuat kota-kota perlindungan bagi pembunuh. Di sana, mereka tidak akan dibunuh. Tetapi begitu keluar dari kota tersebut, mereka dapat diburu kembali.
Lalu saya pun mendapati bahwa tempat perlindungan ternyata bukanlah sebuah tempat permanen bagi anak Tuhan. Ketika Daud dikejar Saul, ia harus berlindung sesaat. Ketika keadaan aman, ia pun keluar sampai akhirnya ia naik tahta menjadi raja Israel.
Bayangkan apabila Daud memilih untuk tetap berlindung sampai Saul wafat. Ia tidak akan bertemu Abigail (I Sam. 25:14-42). Atau ia tidak akan bertempur dengan orang Amalek dan membagi hasil jarahannya dengan tua-tua di Yehuda (I Sam. 30:26). Ia tidak akan mendapat banyak hal dengan hanya diam dalam tempat perlindungan.
Demikian pula kita. Dengan hanya diam dalam "Comfort Zone", perkara besar yang menjadi bagian kita bisa terlewat dan bisa jadi akhirnya diberikan oleh Tuhan bagi orang lain.
Apakah mungkin seorang tentara berperang hanya dalam bunker? "The war is out there". Seorang tentara harus keluar lubang persembunyian untuk dapat mencapai kemenangan. Harta bangsa-bangsa tidak akan menjadi bagian mereka yang hanya diam menunggu. Harus ada upaya yang dilakukan. Dan itu semua diawali dengan keluar dari "zona kenyamanan" kita.
Dari dua hal di atas, jelas bahwa ada relasi antara kedewasaan dan zona nyaman. Orang yang rindu melakukan perkara besar dalam Tuhan terlebih dahulu harus dewasa secara rohani. Setelah ia dewasa, ia pun harus melangkah keluar dari zona nyamannya. Tanpa bekal dewasa, resiko mati konyol di luar zona nyaman akan lebih besar. Apalagi musuh senantiasa mengintai. Lengah sedikit, kita akan jatuh karena kita ada dalam medan pertempuran dimana zona nyaman akan sulit didapat. Hanya mereka yang dewasa rohani yang dapat menemukan tempat perlindungan - yaitu Tuhan sendiri.
Mazmur 94:22
(ITB) Tetapi TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku.
(KJVR) But the LORD is my defense; and my God is the rock of my refuge.
Mazmur 46:8
(ITB) (46:8) TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela
(KJVR) The LORD of hosts is with us; the God of Jacob is our refuge. Selah.
Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment