yakin kita sering mendengar kalimat ini. Tetapi, seringkah kita
melakukannya dengan sungguh-sungguh?
Dua hari yang lalu, kalimat ini kembali terngiang di telinga saya. Kali
ini disertai sebuah pertanyaan. Apakah ketika saya mengatakan "Terserah
Tuhan" itu sudah benar-benar tulus atau hanya tanda "lempar handuk"
(keputus asa an)? Seringkali saat saya berkata demikian, itu tanda
keputus asa an sehingga belum seberapa lama berserah, saya kembali
memilih berjalan dengan cara sendiri. Pemicunya banyak hal. Mulai dari
ketidaksabaran sampai ketidakpuasan akan kondisi yang sepertinya tidak
ada perubahan.
Berkata "Terserah Tuhan" punya konsekuensi yang besar. Itu berarti kita
menyerahkan apa yang ada di depan kita ke dalam tangan Tuhan. Tuhan lah
yang menentukan langkah kita, dan bukan kita dengan segala perencanaan
yang telah dibuat. Kita harus melihat contoh saat Tuhan menuntun Bangsa
Israel keluar dari tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian. Saat itu,
kasarnya, perjalanan Bangsa Israel benar-benar "terserah Tuhan". Bahkan
saat mereka harus kembali ke padang gurun pun, Bangsa Israel harus tunduk
pada jalan yang telah Tuhan berikan.
Ini lah konsekuensi itu. Kalau sudah mengatakan semua "terserah Tuhan",
maka kita pun harus rela dengan jalan yang Tuhan berikan. Ketika Tuhan
tuntun kita menuju "Laut Teberau" dan dibelakang ada "tentara Mesir"
yang menyerang, jangan bersungut. Ketika kita kekurangan makanan di
tengah padang gurun, jangan mengumpat. Ketika ada musuh menyerang,
jangan gentar. Ketika kita bersungut-sungut kepada Tuhan, yang telah
kita serahi untuk memimpin jalan di depan, maka kita mempertanyakan
kredibilitas Tuhan sebagai pemimpin kita. Lihat dalam Alkitab bagaimana
Tuhan menjawab sungut-sungut Israel. Selain melepaskan Israel dari
segala yang mereka permasalahkan, Ia juga menghukum mereka yang
mempertanyakan kredibilitas-Nya.
Jadi, ketika kita menyerahkan semua kepada Tuhan lewat perkataan
"Terserah Tuhan", ingat bahwa itu adalah penyerahan penuh. Seperti
seorang hamba yang tunduk pada tuannya, kita pun harus siap dalam kondisi
seperti itu. Siap selalu setiap saat, tidak bersungut saat harus ada
dalam kondisi yang tidak menyenangkan, dan terlebih lagi, kita harus
mampu mendengar suara-Nya.
Tuhan memberkati kita semua.

No comments:
Post a Comment