Tuesday, February 5, 2008

Terus berdoa dan jangan putus asa

Luke 18:1
(ITB)  Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
(KJVR)  And he spake a parable unto them to this end, that men ought always to pray, and not to faint;

Satu hal yang dapat membuat kita berhenti untuk meminta adalah putus asa. Ketika sepertinya sudah tidak ada harapan, maka kita seringkali berhenti untuk berharap akan sesuatu.
Tuhan Yesus mengerti akan hal itu sehingga Ia memberikan perumpamaan dalam Lukas 18 mengenai hakim dan janda. Menariknya, dari awal pembukaan, Lukas mencatat alasdan Tuhan memberikan perumpamaan tersebut. Dalam Alkitab King James' Version, kita dapat lebih jelas menangkap maksudnya yaitu terus berdoa dan tidak putus asa. Jadi, dalam meminta sesuatu, kadangkala tidak hanya dibutuhkan aksi tindakan saja. Kita pun harus mempersiapkan mental sehingga pada saat ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, kita dapat terus ada di jalur.
Bahkan di ayat 8, Tuhan mempertanyakan apakah masih ada iman di dalam kita karena putus asa berkaitan erat dengan hilangnya iman. Karena itu, kalau mau melihat perkara kita diselesaikan Tuhan, ada 2 kunci yang harus kita miliki. 1 doa dan yang ke 2 tidak putus asa.

Tuhan Yesus memberkati

Saturday, February 2, 2008

Rendah Hati Ketika Memikul Beban

Mazmur 55:22  (55:23) Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Pagi ini Tuhan berikan 2 kata yaitu "rendah hati" dalam renungan saya. Rendah hati yang Ia mau saya renungkan adalah ketika saya sedang menanggung sebuah beban.
Bagi saya, beban dapat berupa apa saja. Mulai dari kewajiban sampai sebuah penugasan. Semua itu harus dilakukan dengan semaksimal mungkin sehingga kadangkala menjadi beban yang dapat mengganggu pemikiran.
Ketika sebuah beban menjadi begitu berat, yang seringkali tidak langsung saya sadari, tidak jarang muncul hal-hal yang sifatnya mengasihani diri sendiri. Saya merasa sedang menanggung semuanya seorang diri tanpa seorang pun mau peduli.
Tapi renungan pagi ini mengajarkan saya satu hal. Tuhan mau saya rendah hati pada saat menanggung beban yang berat. Ketika saya merasa beban sudah terlampau berat lalu saya berkeluh kesah, itu sama dengan saya merasa kekuatan saya sendiri yang menanggung beban tersebut. Bukankah itu sama dengan kesombongan? Padahal, kalau saya mau ingat kembali kalau Tuhan membuka tanganNya bagi mereka yang berbeban berat maka tidak perlu keluh kesah itu keluar.
Karena itulah Tuhan ingatkan saya mengenai rendah hati. Saya harus ingat bahwa selama ini Tuhan lah yang menopang saya. Bahkan ketika saya menopang beban berat, karena Tuhan menopang saya, secara otomatis Tuhan pun menopang beban yang sedang saya pikul. Ilustrasinya seperti ini. Seorang penjual sayur pikulan hendak pergi ke pasar dengan mempergunakan kendaraan umum. Apakah ketika ia di dalam kendaraan yang membawa ia dan barang jualannya ia terus menerus memikul beban tersebut? Tentu tidak. Ia pasti meletakkan beban tersebut pada tempat yang kosong di mobil lalu duduk dengan tenang. Kalau dia terus memikul bebannya tentu akan kita anggap bodoh.
Demikian juga dengan kasus saya. Karena itu saya mau belajar meletakkan beban pada Tuhan Yesus. Tidak dengan sombongnya membawa beban itu terus lalu berkeluh kesah, tetap dengan rendah hati menempatkan semuanya di bawah kaki Tuhan kita.

Thanks God. Haleluya.