Kata-kata ini muncul saat saya merenungkan film "Munich" karya Steven Spielberg.
"Munich" adalah sebuah film yang menceritakan bagaimana pemerintah Israel membunuh anggota kelompok "Black September" yang menghabisi 11 orang atlet Israel dalam Olimpade Munich 1972 (Operasi "The Wrath of God"). Tindakan tersebut berdasar atas "Lex Talionis" yang secara gamblang diartikan mata ganti mata untuk sebuah tindakan pembalasan.
Dalam Alkitab, kita akan menemukan kata-kata tersebut dalam Keluaran 21 : 22-25, Imamat 24 : 19-22, Ulangan 19 : 18-21, dan Matius 5 : 38.
Sebuah komentar mengenai "Lex Talionis" mengatakan bahwa hukum ini dapat menghancurkan kedamaian dan mengandung benih kebencian, balas dendam, dan ketidakmurah hatian. Karena itu, apabila dijalankan, maka berpotensi membuat keadaan sosial masyarakat menjadi hancur.
Tentu saja hal tersebut menarik perhatian saya. Bagaimana mungkin Tuhan menurunkan hukum yang penuh kebencian itu kepada bangsa Israel? Bahkan, paling tidak sampai Operasi The Wrath of God dilaksanakan, bangsa Israel masih teguh memegang "Lex Talionis". Kematian 11 orang dibalas dengan pembunuhan anggota organisasi yang bertanggungjawab atas peristiwa tersebut.
Tapi, mari kita lupakan itu. Mengapa? Karena kita hidup dalam sebuah Perjanjian Baru dengan Tuhan. Sebuah perjanjian dimana kita diselamatkan oleh kasih karunia di dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan bukan oleh usaha kita sendiri.
Mari kita lihat komentar Tuhan Yesus mengenai "Lex Talionis". Dalam Matius 5 : 39-48, Tuhan meruntuhkan prisip mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Mungkin topik ini seringkali kita dengar dikhotbahkan dari atas mimbar. Tetapi seberapa sering kita melakukan? Apakah kita sering memberikan pipi kiri kepada orang yang telah menampar pipi kanan kita?
Saya sendiri baru merenungkan arti "memberikan pipi kiri" saat sekarang sedang menulis hal ini. Ada dua pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya,"Mengapa Tuhan mau kita memberikan pipi yang satu lagi? Apakah tindakan memaafkan saja tidak cukup?"
Ternyata memang memaafkan musuh saja tidak cukup. Kita perlu melakukan lebih dari itu. "Tapi, buat apa Tuhan?"
Memaafkan bukanlah hal yang mudah. Banyak orang susah untuk memaafkan karena masih ada "bara" kekesalan yang dipendam dalam hati. Dan jujur, kadangkala kata maaf diucapkan untuk menyelesaikan perselisihan dengan cepat. Walau kata maaf sudah terucap, tidak jarang hati kita masih menyimpan "bara" ketidakpuasan. Apa efeknya? Efek tercepat adalah hubungan antar personal yang tidak terpulihkan dan tidak mustahil akan ada hal lain seperti kita menyebarkan benih kebencian terhadap orang itu di tempat lain sehingga ada seseorang yang terpengaruh hal tersebut.
Saya yakin Tuhan mau kita menyelesaikan semua masalah dengan tuntas. Tuhan, yang menyelidiki kita sampai relung hati yang terdalam, tidak dapat kita bohongi dengan sebuah pernyataan mengampuni yang hanya lip-service . Dia mau hati kita pun mengampuni dengan sempurna.
Roma 12:9, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.”
Karena itu diperlukan sebuah tindakan yang mencerminkan hal tersebut.
Itu mengapa Tuhan minta kita memberikan pipi kiri. Sebuah pipi yang belum ditampar untuk menunjukkan kerelaan hati kita.
Itu mengapa Tuhan minta kita memberikan jubah kepada mereka yang menginginkan baju kita. Mengapa jubah? Jubah bukanlah hal yang primer menutupi tubuh kita. Jubah seseorang melambangkan status pemakainya. Jubah bicara mengenai kehormatan diri karena tanpa jubah seseorang dapat sama dengan yang lain. Tuhan mau kita pun melepaskan "pride" kita ketika mengampuni.
Itu mengapa Tuhan minta kita berjalan dua kali lipat jauhnya kepada orang yang memaksa kita berjalan 1 mil. Tuhan mau kita melakukan pengorbanan saat mengampuni.
Sekarang pilihan ada di tangan kita. Apakah tetap "mata ganti mata" atau "memberi pipi kiri"?
Saya ingat sebuah perkataan. Ketika orang-orang berpegang pada prinsip "mata ganti mata", maka dunia ini akan penuh dengan orang buta. Semua pihak rugi dan tidak ada kedamaian. Tetapi ketika "pipi kiri diberikan", maka mata musuh kita akan tetap ada untuk melihat bagaimana kasih Kristus itu nyata dalam hidup ini. Dan biar Tuhan bekerja dalam diri mereka untuk mengubah musuh kita menjadi orang yang juga mau mengasihi. Bukankah satu musuh terlalu banyak sementara seribu teman terlalu sedikit?
Tuhan Yesus memberkati.