Sunday, January 25, 2009

Bukan Karena Uang

Judul di atas adalah hal yang saya dapat ketika saya mendapat tawaran
pekerjaan yang sekarang sedang saya jalani.

Izinkan saya menceritakan sedikit hal yang akan membuat kita semua dapat
mengerti hal ini.

Pekerjaan saya sebelum sekarang adalah arsitek freelance. Saya, istri, dan
sepasang rekan seangkatan (dan juga sepelayanan) sepakat mendirikan sebuah
biro arsitek. Pekerjaan demi pekerjaan kami jalani sampai pada saat
tiba-tiba semua hal seakan terhenti. Proyek yang tertunda, batal, bahkan
pembayaran dari klien yang tersendat bermunculan di hadapan kami. Dan
dimulailah episode yang berat dalam kehidupan saya dan istri.
Situasi keuangan yang memburuk dan kebutuhan yang terus ada membuat kami
menjalani hari demi hari dengan perhitungan yang ketat. Uang yang kami
dapat langsung dikalkulasi agar dapat pas, syukur-syukur ada buat
ditabung, sampai kami mendapat uang kembali yang kadang kami tidak tahu
waktunya kapan.
Walau demikian, puji Tuhan, kami tidak berjalan sendirian. Ketika kami
berada dalam krisis, kami tahu bahwa Tuhan Yesus tidak membiarkan kami
jatuh tergeletak begitu saja. Ia memberikan pengajaran dan bimbingan yang
luar biasa sehingga kami dapat terus bertahan. Secara pribadi saya berkata
bahwa keadaan krisis tidak akan membuat saya kehilangan iman. Saya mau
tetap percaya kepada-Nya.

Singkat kata, di November 2008, datanglah tawaran untuk bekerja di
Jakarta. Dari banyak hal yang Tuhan berikan bagi saya mengenai ini, Ia
secara jelas mengatakan bahwa pekerjaan saya ini bukan karena uang yang
besar. Terus terang saya heran. Saat itu, secara finansial, jelas saya
kekurangan dan pekerjaan ini dapat menutupi hal itu. Tapi mengapa Tuhan
katakan pekerjaan ini bukan karena uang? Secara gamblang Tuhan mau, saat
orang bertanya mengapa saya ambil pekerjaan itu, saya tidak berkata bahwa
motivasi saya bukanlah uang. Walau mungkin kedengaran aneh, saya coba
lakukan hal itu.

Dan saat ini, Januari 2009, saya tahu mengapa.

Dari awal tahun 2009 sampai sekarang saya sedang mengerjakan sebuah proyek
yang memiliki tenggat waktu yang singkat. Walau saya karyawan dengan
status non-permanent, atas desakan klien, saya diizinkan menjadi "team
leader" yang membawahi 3 arsitek dan beberapa draftman. Untuk mengejar
target, setiap hari saya harus bekerja kurang lebih 10 sampai 12 jam
karena, selain mengerjakan bagian saya, ada tugas lain yaitu memeriksa
gambar yang dibuat oleh tim. Nah, karena saya dibayar berdasarkan jam yang
saya berikan untuk proyek itu, maka tentu saja uang yang didapat semakin
besar. Ketika saya sedang menghitung berapa uang yang akan dihasilkan dari
proyek ini,Tuhan mengingatkan saya kembali kepada bulan November tahun
lalu.

Saat itulah saya mengevaluasi keberadaan saya. Sebagai seorang team
leader, saya berhadapan dengan banyak orang. Kadang situasi yang saya
hadapi tidak menyenangkan. Saya harus bisa mengerti keadaan bawahan sambil
tetap menjaga target. Hal paling berat adalah saat harus menjelaskan
kepada klien mengenai keterlambatan target dan membahas proyek secara
keseluruhan - dalam bahasa Inggris (waduh...padahal saya bukan pengguna
aktif). Mengeluh bukan lagi hal aneh buat saya dalam bulan Januari ini.
Mengeluh karena pekerjaan, mengeluh karena bawahan yang lambat, mengeluh
karena hal teknis, dan bahkan mengeluh karena macet yang membuat saya
terlambat masuk kantor.

Hari Jumat saya mengikuti Persekutuan Doa AGAPE di gedung tempat kantor
saya berada. Pembicaranya adalah Pdt. Jesse Lantang. Ia berbicara mengenai
hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Ada beberapa perkataan
beliau yang terus tercatat dalam benak saya.

1. Pergaulan kita harus intim dengan Tuhan.
Keintiman antar manusia menghasilkan anak sementara keintiman dengan Tuhan
menghasilkan Buah Roh. Saat itu saya tertampar. Keluhan saya akan
pekerjaan membuat saya kehilangan sukacita dan dama sejahtera. Ini berarti
keintiman saya dengan Tuhan telah terusik dengan keintiman saya dengan
pekerjaan. Tidak heran Tuhan ingatkan kembali mengenai "bukan karena
uang". Motivasi saya untuk lembur sedikit banyak dipengaruhi oleh uang
yang saya dapatkan. Tuhan tidak suka itu. Ia mau saya kembali intim
dengan-Nya.

2. Hubungan dengan manusia berarti kita tidak menjadi sama dengan orang
dunia tetapi bercampur dengan mereka.
Garam tidak ada gunanya kalau hanya berkumpul dengan garam. Ia harus masuk
dalam masakan agar menjadi hidangan lezat. Secara kuantitas, garam yang
sedkit bisa untuk masakan sepanci. Itulah pengikut Kristus. Walau sedikit
di tempat kerja, ia harus punya dampak. Saya juga teringat perkataan Pdt.
Jesse, "walk extra mile". Orang Krsten harus mau menjalani jarak lebih
jauh daripada yang diminta. Bagi saya ini seperti melampaui target yang
diberikan. Bukan karena mengejar kepuasan atau penghargaan, tetapi sebagai
cerminan kasih.

Saat keluar ruangan, saya baru mengerti perkataan "bukan karena uang".
Tuhan telah berikan satu kesempatan bagi saya lewat pekerjaan saat ini. Ia
mau saya menjadi garam. Itu hal utamanya. Upah dalam bentuk uang hanyalah
efek samping yang ditimbulkan.
Selama menjalani proyek ini, saya begitu tertekan oleh deadline yang ada.
Karena itu, jujur saya akui, saya seringkali mengkompensasi keletihan
dengan uang yang didapat. Jadi, saya menjalani kerja dengan motivasi uang.
"Tidak apa-apa pulang malam. Toh dapat uang lebih banyak".
Ternyata itu adalah motivasi yang salah. Sebagai pengikut Kristus,
motivasi kita adalah menjadi garam dan terang dunia. Keberadaan kita dalam
suatu tempat adalah untuk membuat lingkungan kita menjadi lebih baik. Uang
hanyalah efek samping yang didapat. Karena itu, uang tidak boleh dijadikan
motivasi. Puji Tuhan. Ia telah mengingatkan saya pada saat yang tepat.
Saat saya merenungkan hal itu sambil bekerja, saya bisa rasakan ada aliran
baru yang mengalir dalam hati saya.

Hari itu, walau diujung deadline, saya masih bisa tersenyum. Bahkan saat
tahu kalau deadline tidak tercapai sepenuhnya, pulang jam 12.30 pagi ban
mobil kempes, dan harus memanjat pagar rumah yang sudah terkunci. Saya
tahu saya tidak sendiri. Tuhan tetap menyertai saya dan sukacita dan damai
luar biasa tetap saya rasakan.

Tuhan Yesus memberkati.

No comments: