Beberapa waktu belakangan ini kita sering mendengar mengenai jebolnya tanggul Situ Gintung.
Pemberitaan yang terus menerus membuat saya bertanya apa arti rohani kejadian ini. Dan inilah yang saya dapatkan.
Situ Gintung dapat diibaratkan seperti kehidupan kita. Tanggul diibaratkan seperti iman seseorang dan air di dalamnya adalah kehidupan.
Sedikit kronologis jebolnya tanggul Situ Gintung. Semua diawali dengan curah hujan tinggi yang membawa air dalam jumlah besar ke dalam situ. Karena tanggul memiliki sistem pelimpasan (spillway) maka air yang berlebih tersebut dapat tumpah ke sana. Sayangnya, kondisi pelimpasan sudah tidak sempurna sehingga retakan pada bagian tersebut akhirnya menjadi lubang besar menganga yang membawa air bah ke perumahan penduduk.
Seperti yang sudah saya nyatakan di atas, air dalam situ diibaratkan seperti kehidupan. Iman kita adalah tanggul. Saat ini, krisis yang sedang melanda dunia dapat diibaratkan debit air yang meninggi dalam air kehidupan. Iman kita, sebagai tanggul pertahanan, diperhadapkan dengan air dengan tekanan tinggi. Keadaan ini tentu saja tidak bisa dihindari. Yang bisa dihindari adalah jebolnya tanggul iman tersebut.
Bagaimana tanggul iman seseorang dapat jebol? Sama seperti tanggul situ, semua bermula dari retakan kecil. Ketika retakan itu terus menerus mendapat tekanan hidup, dan kita tidak menyadari dan segera mengambil tindakan, maka sudah bisa dipastikan kehidupan kita akan dilanda air bah. Berikut ada tips agar kita tidak membiarkan retakan itu muncul.
1 Petrus 5 : 8
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Ayat di atas mengumpamakan kita sebagai buruan dan Iblis sebagai pemburu. Pernah lihat tayangan tv yang menggambarkan perburuan singa?
Singa yang sedang berburu akan memanfaatkan keadaan sekitar dan juga keadaan lawan. Dengan diam-diam, ia berusaha mengejutkan mangsa yang diincarnya. Dengan kejutan tersebut, ia berharap lawannya akan terlambat menyadari hal yang terjadi sehingga lebih mudah untuk disergap.
Iblis, yang menjadi pemburu kita, walau digambarkan sebagai singa tetapi tidak berburu seperti singa di kehidupan nyata. Ia tidak berjalan pelan-pelan dalam keheningan melainkan mengaum-aum untuk menyatakan kehadirannya.
Saya tidak bisa berhenti tersenyum ketika mrnyadari hal ini. Siapa yang bisa ditangkap oleh singa yang mengaum? Buruan pasti akan langsung lari begitu menyadari ada kehadiran sang pemburu. Tetapi ayat di atas menyatakan hal yang berbeda. Tampaknya ada buruan yang begitu bodohnya sehingga, walau singa telah mengaum, tetapi mereka tidak tahu. Mereka tidak sadar dan tidak berjaga-jaga sehingga perlu diingatkan bahwa singa telah ada di sekitar hidup mereka.
Pertanyaannya, apakah kita sadar dan berjaga-jaga? Sebagai seorang buruan, apakah kita telah menyadari dan berjaga-jaga atas kehadiran singa di sekitar kita? Singa pasti akan berjalan keliling. Dan kita harus sadar dan berjaga-jaga. Jangan sampai kita menjadi lengah dan lalai sehingga kita dimangsanya.
Itulah cara mengatasi keretakan pada tanggul iman kita. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal sederhana, pertahanan kita retak akibat tekanan kehidupan. Jujur, saya pun mengalaminya. Mulai dari kesal karena gaya menyetir orang di depan saya, atau penyeberang jalanan yang sembarangan, dan hal-hal sepele lainnya.
Seperti yang ayat di atas nyatakan, seharunya kita sadar dan berjaga-jaga. Memang hal-hal yang kecil tidak akan terlihat berarti kalau dibandingkan iman percaya kita kepada Tuhan. Tetapi ingat bahwa runtuhnya tanggul Situ Gintung dimulai dari sebuah retakan kecil.
Jadi, mari kita sadar dan berjaga-jaga dalam menjalani hidup ini. Singa berjalan keliling dalam kehidupan kita. Ia tahu bahwa tidak mungkin langsung menyerang tanggul iman yang besar. Maka ia mencari kelengahan-kelengahan kita dalam hal kecil dan lewat hal itu ia akhirnya bisa menerkam kita.
Tuhan Yesus memberkati.
Foto Pacar
14 years ago

No comments:
Post a Comment