Saturday, April 18, 2009

Membangun Hidup

Hari ini saya membaca 1 Korintus 3. Dari bacaan tersebut,
saya merenungkan arti "membangun hidup".

Dalam surat Paulus kepada Jemaat Korintus, dalam pasal 3 ia menyoroti
secara khusus mengenai "Perselisihan" serta "Dasar dan bangunan"
(judul yang diberikan LAI). Walau ada dalam satu perikop, tapi jarang
sekali saya mengaitkan keduanya. Padahal kalau kita perhatikan, ada
kesinambungan topik yang Paulus angkat. Hal ini diangkat karena pada
waktu itu ada kecenderungan jemaat di Korintus terbagi dalam beberapa
kelompok dan mempunyai potensi untuk pecah. Karena itu secara tegas
Paulus menyatakan bahwa hal itu tidak boleh terjadi karena semua
jemaat dibangun atas dasar yang sama yaitu Yesus Kristus (1 Kor 3 :
11) dan semua jemaat adalah milik Kristus (I Kor. 3 : 23).

Saya merenungkan perikop ini seperti sebuah bangunan. Setiap bangunan
punya dasar atau pondasi. Pondasi ini adalah benda terakhir dari
sebuah bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah keras.
Pondasi bangunan A bisa sama dengan bangunan B. Tetapi rupa bangunan A
bisa berbeda dari bangunan B. Jadi bangunan di atasnya bisa berbeda
bentuk walau pondasinya berbentuk sama.
Inilah yang Paulus lihat dalam Jemaat Korintus. Mereka punya pondasi
yang sama yaitu Yesus Kristus. Walau demikian, para pengajar yang
berbeda membuat "bangunan" yang dibuat di atasnya menjadi berbeda.
Keadaan ini lalu menjadi runyam karena tingkat kedewasaan jemaat belum
tinggi (I Kor 3 : 1 - 2). Mereka mengelompokkan diri dalam golongan A
dan golongan B dan akhirnya muncul iri hati dan perselisihan yang
sebenarnya tidak perlu.
Sebenarnya, hal ini pun juga bisa terjadi dalam kehidupan jemaat saat
ini. Sadar atau tidak, ada diantara kita ada yang senang
mengotak-ngotakkan diri dalam kelompok dan memandang hanya kelompoknya
yang benar. Atau bisa juga lebih kecil, setiap orang mengelompokkan
dirinya dalam kelompok "saya" sehingga dengan mudahnya muncul iri hati
dan perselisihan dengan orang lain.

Apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?
1. Kita masih manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.
Keduniawian dengan kedewasaan dalam Kristus berbanding terbalik.
Semakin kita dewasa, dalam Kristus, maka semakin kita kehilangan jati
diri sebagai manusia duniawi. Hal ini disebabkan adanya Roh Kudus yang
mengganti ke-duniawi-an tersebut dengan hikmat Elohim.
I Kor 2 : 14
"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh
Elohim, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak
dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani."
Semakin kita dewasa dalam Kristus, semakin kita sadar bahwa manusia
duniawi tidak akan mampu memahami dunia dan berkat yang telah Tuhan
sediakan.

2. Kita tidak memperhatikan bagaimana kita membangun di atas dasar
tersebut (I Kor 3 : 10).
Ketika seorang membangun rumah, maka ia merencanakan terlebih dahulu
material pembuat rumahnya. Pondasi akan dibuat berdasarkan kebutuhan.
Bangunan dari tripleks tidak membutuhkan pondasi gedung bertingkat
tinggi. Demikian sebaliknya. Jadi pondasi yang digunakan harus tepat.
Sekarang, bagaimana kalau pondasinya sudah ada? Tentu kita harus
membangun sesuai dengan pondasi tersebut. Jangan melebihi kemampuannya
karena bangunan kita tidak akan kuat dan juga jangan kurang dari
kemampuan pondasi karena pondasi akan menjadi sia-sia.
Paulus menyatakan bahwa dasar kita adalah Yesus Kristus. Ini adalah
dasar yang sangat kuat. Dengan dasar yang kuat itu, "bangunan
kehidupan" kita pun harus sesuai dengan pondasi yang ada. Buat apa
kita punya kehidupan yang terbang begitu angin datang; padahal kita
punya pondasi yang kokoh. Hidup kita tidak akan berarti kalau kita
tidak membangunnya secara tepat sesuai dasar yang telah ada. Jadi,
bangun hidup kita sesuai dengan dasar Yesus Kristus agar saat ujian
datang, hidup kita tetap berdiri kokoh.

3. Berhikmat menurut dunia (I Kor 3 : 18).
Paulus menyatakan bahwa hikmat dunia adalah kebodohan bagi Elohim.
Bahkan rancangan orang berhikmat tersebut dianggap sia-sia belaka.
Tapi, hal itu tidak mengurangi orang mengejar hikmat dunia. Bahkan
tidak jarang ada orang yang memegahkan diri dengan hikmat tersebut.
Hikmat dunia tidak akan membuat kita mengenal Tuhan. Bahkan ia dapat
membuat kita menjauh dari pengenalan akan Tuhan. Hanya hikmat Tuhan
yang membuat kita dapat membangun bangunan kokoh di atas dasar
Kristus.

Mau terhindar dari perselisihan dan iri hati?
Perhatikan "bangunan kehidupan" kita. Kita semua telah memiliki dasar
yang kuat yaitu Yesus Kristus. Hikmat dan kedewasaan di dunia tidak
bisa menjadikan bangunan kehidupan kita kokoh. Hikmat Tuhan dan
kedewasaan di dalam Kristus lah yang mampu membuat bangunan kita kuat
dan tetap berdiri saat api Tuhan datang menguji.

Selamat membangun bangunan kehidupan. Tuhan Yesus memberkati.

No comments: