Monday, April 20, 2009

Pelayanan Kristiani

Shalom rekan-rekan.

Sabtu malam, saya sempat menyaksikan sebuah film seri jaman dulu di
stasiun tv lokal CTC channel. Judulnya 'Touched By An Angel'. Kalau
tidak salah, dulu sempat ditayangkan oleh TVRI atau kalau tidak RCTI
di era 80-an.

Film seri ini menceritakan dua malaikat yang ditugaskan ke dunia untuk
menyampaikan pesan Tuhan bagi orang-orang tertentu.
Nah, kemaren, film ini bercerita mengenai seorang tua bernama Sam. Ia
memiliki klub jazz bernama 'Indigo' dimana para tetua musik jazz dan
blues pernah bermain di sana. Beberapa orang diantaranya seperti Isaac
Hayes, Al Jerrau, dan B.B. King. Lewat beberapa masa, klubnya pun
mulai ditinggakan orang. Cucunya, bernama Isaac, yang tinggal di kota
lain datang untuk menjual klub tersebut dan membawa Sam tinggal di
panti jompo di kota lain. Tentu saja hal itu ditentang Sam. Apalagi
kedatangan Isaac berdekatan dengan 'Hot Mic Night' yang merupakan
acara regular pemusik yang menjadi ikon klub tersebut. Walau demikian,
Isaac bergeming. Ia mengadakan pertemuan dengan calon pembeli yang
ingin mendirikan tempat parkir tepat dimana klub itu berdiri.
Seperti disebutkan di atas, ada 2 malaikat yang menjadi inti cerita.
Malaikat yang satu lebih 'senior' dibanding yang lain. Malaikat yang
junior mendapat tugas untuk menyampaikan sesuatu kepada Sam. Dan
ternyata di tempat itu pun sudah datang malaikat kematian. Tampaknya,
waktu hidup bagi Sam telah berakhir. Tetapi sebelum itu, ada pesan
dari Tuhan yang harus disampaikan sebelum Sam menutup mata.
Dan di acara 'Hot Mic Night', yang dihadiri para legenda jazz, Sam
pergi meninggalkan dunia dan klubnya diteruskan oleh sang cucu -
Isaac.

Film ini sangat sarat pesan kristiani. Banyak pelajaran aplikasi
firman Tuhan secara praktis dalam kehidupan diperlihatkan di sini.
Dalam episode kali ini, pesan bagi Sam adalah hal yang membekas bagi
saya.
Sepanjang hidup Sam, ia hanya mengetahui soal musik. Secara konsisten,
ia berusaha menjadikan Klub Indigo menjadi tempat yang nyaman bagi
semua orang. Dengan tangan terbuka ia menerima mereka. Ia tidak
mempedulikan apakah tamu itu seorang pecundang atau bangsawan. Ia
hanya mau memberikan cinta nya bagi setiap tamu yang masuk ke dalam
ruangan klub jazz miliknya. Saat situasi berubah, dimana orang tidak
lagi mendengarkan Jazz, ia tetap berusaha keras menjalankan klub.
Untuk itu ia rela berhutang dan melakukan apa pun. Bukan karena
ambisinya tetapi karena kesetiaannya pada sebuah janji.
Pesan bagi Sam yang disampaikan oleh malaikat cukup singkat. Ia telah
setia mengisi klubnya dengan cinta sehingga semua orang yang berada di
dalamnya merasakan hal tersebut. Kesetiaan itu diganjar dengan upah di
Sorga yang melebihi harta dunia ini.

Hal itu yang membuat saya merenung 2 hal dalam sebuah pelayanan. Yang
pertama adalah 'warna' dan yang kedua adalah 'kesetiaan'.

Setiap pelayanan mempunyai 'warna'. Apa maksudnya warna? Warna adalah
satu ciri khas yang diberikan oleh pelayanan tersebut. Ini bukan
cerita bentuk atau media pelayanan tetapi lebih pada hal yang
tersirat. Bentuk dan warna pelayanan dapat diumpamakan seperti sebuah
permen. Bungkus permen adalah bentuk pelayanan dan rasa permen adalah
warna pelayanan tersebut.
Pernah memperhatikan bungkus permen? Biasanya bungkus permen
mencerminkan rasa yang dimilikinya. Itu mengapa permen coklat hampir
selalu mempunyai warna pembungkus yang senada coklat. Atau permen mint
punya pembungkus dengan warna hijau atau yang senada. Semua itu usaha
agar pembeli dengan mudah mengidentifikasi rasa apa di dalamnya.
Demikian pula sebuah pelayanan. Bersama teman gereja mengunjungi orang
sakit dapat dengan mudah diidentifikasi sebagai pelayanan kristiani.
Tergabung dalam komisi pemuda dan ikut paduan suara dapat dengan mudah
dikatakan sebagai pelayanan kristiani. Tapi, apakah pemutaran film
sekuler di sebuah gereja dapat dikatakan sebuah pelayanan kristiani?
Pelayanan kristiani dapat dikatakan kristiani apabila, minimal, ada
tanda buah Roh di dalamnya. Galatia 5 : 22 - 23 menyatakan buah Roh
adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Warna inilah
yang minimal ada dalam setiap pelayanan kristiani.
Pelayanan paduan suara gereja, apabila tidak ada tanda buah Roh di
dalamnya, apakah ini tetap pelayanan kristiani? Atau kepengurusan
gereja, apabila di dalamnya tidak ada buah Roh, apakah ini sebuah
pelayanan kristiani?
Bentuk pelayanan kita bisa berbeda; baik itu dalam bentuk yang umum
dipakai gereja atau bentuk yang sangat sekuler. Tetapi kalau ada warna
buah Roh dalam pelayanan tersebut, maka itu adalah pelayanan yang
Tuhan inginkan.
Masalahnya, banyak orang hanya mempermasalahkan sebuah bentuk
pelayanan tetapi tidak mau merasakan warna apa di dalamnya. Karena itu
jangan heran apabila ada orang mempertanyakan pelayanan kita karena
mereka hanya melihat bungkus luarnya saja. Bagi mereka, bungkus permen
adalah harga mati untuk menilai rasa. Apakah mereka salah? Bagi saya,
orang-orang tersebut hanya melihat dari sisi lain yang tidak orang
lain lihat. Mereka tidak salah karena memang sebuah benda bisa dilihat
dari banyak sisi. Apa yang harus dilakukan bagi mereka? Berkoar-koar
menceritakan rasa permen hanya akan membuat kita kehabisan nafas.
Mungkin bisa, tetapi itu adalah hal yang sangat menguras energi. Yang
harus kita lakukan, tentu saja dalam konteks iman dalam Tuhan Yesus,
adalah minta hikmatNya - seperti Salomo meminta hikmat untuk
menyelesaikan permasalahan, demikian pula yang harus kita lakukan.
Jangan dengan emosi kita mengambil tindakan yang akhirnya hanya akan
membuat pelayanan berantakan. Ingat bahwa pelayanan kita adalah juga
melayani Tuhan. Buat apa kita merubah bentuk pelayanan demi memuaskan
manusia tetapi melupakan keinginan Tuhan? Yang terpenting adalah apa
yang Tuhan mau. Atau sederhananya 'WWJD' - What Would Jesus Do?
Apabila sebuah pelayanan telah Tuhan tetapkan menjadi bagian kita,
usaha manusia menentangnya pasti akan kandas karena Tuhan yang berdiri
sebagai pembela kita.

Hal yang kedua adalah kesetiaan. Saat badai cobaan atau pun kesukaan
datang menerpa pelayanan kita, apakah kita tetap setia pada apa yang
telah kita berikan bagi pelayanan tersebut? Ada saat dimana duka
menyelimuti pelayanan kita. Mereka yang tidak kuat bisa saja
kehilangan semangat sehingga warna dalam pelayanan tersebut hilang.
Kehilangan warna dalam pelayanan mengakibatkan pelayanan tersebut
menjadi hambar. Bagaimana warna tersebut dapat bertahan? Dengan
kesetiaan setiap pelayan yang ada di dalamnya. Satu hal yang harus
dicermati, saya tidak sedang bicara mengenai kesetiaan pada bentuk
pelayanan. Tetapi kesetiaan pada warna pelayanan. Paulus mengatakan
dalam I Korintus 9 : 19 - 23 bahwa ia seperti orang Yahudi untuk
memenangkan orang Yahudi dan ia pun seperti orang yang hidup di bawah
hukum Taurat untuk memenangkan mereka, dan seterusnya. Paulus mau
berubah-rubah 'bentuk' karena Injil dan supaya ia mendapat bagian di
dalamnya. Ia berusaha memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan dengan tidak
terikat kepada sebuah bentuk. Satu hal yang pasti, seperti ia katakan
dalam ayat 21, bahwa walau ia menjadi seperti orang yang tidak hidup
di bawah hukum Taurat untuk memenangkan mereka, tetapi ia tetap hidup
di dalam hukum Kristus.
Inilah kesetiaan itu. Bukan kesetiaan yang terbatas hanya pada sebuah
bentukan tetapi jauh melampaui itu dimana tujuan sesungguhnya dari
pelayanan berada. Untuk melayani Tuhan dan sesama.

Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

No comments: