Thursday, December 18, 2008

God Works in Details

Beberapa waktu yang lalu saya berbagi Firman Tuhan dengan seorang teman.
Tiba-tiba saya teringat sebuah kalimat yang pernah saya baca sewaktu
kuliah arsitektur. "God works in details". Tentu waktu jaman dulu kalimat
ini berkaitan dengan detail dalam sebuah bangunan. Tetapi, sewaktu saya
merenungkan kalimat ini, ternyata juga bisa berlaku dalam kehidupan kita.

Beberapa hari belakangan, saya memperhatikan beberapa detail dari
rutinitas saya dari pagi sampai malam. Bangun pagi, dilanjutkan dengan
segala rutinitasnya, untuk bersiap menuju kantor. Pukul 12 beristirahat 1
jam untuk kemudian kembali bekerja sampai sekitar pukul 19 sambil
menunggu lalu lintas sedikit lowong. Sampai di rumah, bersih-bersih dan
akhirnya beristirahat. Hal itu berulang 5 hari dalam seminggu. Kalau
melihat secara garis besar, tentu itu semua menjemukan. Tidak sedikit
teman yang menyatakan alasan mereka keluar kantor adalah jemu bekerja 9-5
terus menerus. Jadi mereka memilih berwiraswasta karena jam yang lebih
longgar.

Saya pernah ada dalam dua situasi tersebut. Memang bekerja tetap, bila
kita hanya melihat rutinitasnya saja, akan sangat menjemukan. Tetapi
bukan berarti wiraswasta tidak. Ketika beban kerja menumpuk, kita pun
dapat terjebak rutinitas. Yang berbeda adalah kalau wiraswasta kita dapat
menentukan sendiri kapan harus beristirahat sementara kerja kantoran
tidak sefleksibel itu.

Saat ini saya menjadi karyawan freelance di sebuah konsultan di Jakarta.
Walau freelance, saya tetap punya jam kantor - kecuali saat beban kerja
berkurang maka saya boleh masuk dan pulang kapan pun saya mau. Nah, di
tengah itu, saya pun sempat terjebak rutinitas. Tapi satu hal, Tuhan
tetap memberi hiburan bagi saya dalam detail waktu yang ada. Saat saya
pergi dan terjebak kemacetan Jakarta, kadang saya memanfaatkan hal ini
untuk "curhat" apapun dengan Tuhan. Saat saya beristirahat, Tuhan berikan
hal yang kadang saya posting di blog ini. Saat saya pulang, kadang Tuhan
berikan hal tak terduga yang sering membuat saya tersenyum sendiri.

Inilah mengapa saya teringat kalimat "God works in details". Tuhan
membuat detail kehidupan saya lebih bernilai. Ia tidak begitu saja
melepaskan saya dalam rutinitas. Ia berikan banyak hal yang bagi saya
adalah bumbu penyedap kehidupan sehingga saat-saat rutin tidak terasa
sudah saya lewati. Bahkan kadang saya tidak merasakan bahwa pekerjaan di
kantor adalah sebuah rutinitas. Saya pun lebih menikmati waktu pergi,
terjebak kemacetan, antri makan di kantin, dan saat-saat pulang (baik
menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum yang penuh sesak).
Bagi saya, detail itu menjadi rangkaian indah yang sayang untuk kita
lewati begitu saja.

Karena itu, bagi mereka yang sudah bosan terjebak rutinitas, mari lihat
detail yang ada. Minta Tuhan membuka mata dan hati kita untuk dapat
melihat apa yang telah Ia sediakan dalam rutinitas itu. Mungkin Ia mau
kita bertindak di luar rutinitas. Ketika hal itu terjadi, jangan abaikan.
Saya percaya kita pun akan heran dan tercengang melihat bagaimana Tuhan
bekerja mewarnai hidup ini.

Tuhan Yesus memberkati.

Terserah Tuhan

Entah sudah berapa kali kita mengucapkan atau mendengar hal ini. Saya
yakin kita sering mendengar kalimat ini. Tetapi, seringkah kita
melakukannya dengan sungguh-sungguh?

Dua hari yang lalu, kalimat ini kembali terngiang di telinga saya. Kali
ini disertai sebuah pertanyaan. Apakah ketika saya mengatakan "Terserah
Tuhan" itu sudah benar-benar tulus atau hanya tanda "lempar handuk"
(keputus asa an)? Seringkali saat saya berkata demikian, itu tanda
keputus asa an sehingga belum seberapa lama berserah, saya kembali
memilih berjalan dengan cara sendiri. Pemicunya banyak hal. Mulai dari
ketidaksabaran sampai ketidakpuasan akan kondisi yang sepertinya tidak
ada perubahan.

Berkata "Terserah Tuhan" punya konsekuensi yang besar. Itu berarti kita
menyerahkan apa yang ada di depan kita ke dalam tangan Tuhan. Tuhan lah
yang menentukan langkah kita, dan bukan kita dengan segala perencanaan
yang telah dibuat. Kita harus melihat contoh saat Tuhan menuntun Bangsa
Israel keluar dari tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian. Saat itu,
kasarnya, perjalanan Bangsa Israel benar-benar "terserah Tuhan". Bahkan
saat mereka harus kembali ke padang gurun pun, Bangsa Israel harus tunduk
pada jalan yang telah Tuhan berikan.

Ini lah konsekuensi itu. Kalau sudah mengatakan semua "terserah Tuhan",
maka kita pun harus rela dengan jalan yang Tuhan berikan. Ketika Tuhan
tuntun kita menuju "Laut Teberau" dan dibelakang ada "tentara Mesir"
yang menyerang, jangan bersungut. Ketika kita kekurangan makanan di
tengah padang gurun, jangan mengumpat. Ketika ada musuh menyerang,
jangan gentar. Ketika kita bersungut-sungut kepada Tuhan, yang telah
kita serahi untuk memimpin jalan di depan, maka kita mempertanyakan
kredibilitas Tuhan sebagai pemimpin kita. Lihat dalam Alkitab bagaimana
Tuhan menjawab sungut-sungut Israel. Selain melepaskan Israel dari
segala yang mereka permasalahkan, Ia juga menghukum mereka yang
mempertanyakan kredibilitas-Nya.

Jadi, ketika kita menyerahkan semua kepada Tuhan lewat perkataan
"Terserah Tuhan", ingat bahwa itu adalah penyerahan penuh. Seperti
seorang hamba yang tunduk pada tuannya, kita pun harus siap dalam kondisi
seperti itu. Siap selalu setiap saat, tidak bersungut saat harus ada
dalam kondisi yang tidak menyenangkan, dan terlebih lagi, kita harus
mampu mendengar suara-Nya.

Tuhan memberkati kita semua.