Thursday, December 20, 2007

Melangkah Dari Masa Lalu

Beberapa hari belakangan, di benak saya selalu terlintas mengenai "masa lalu".
Tidak seperti file komputer, masa lalu tidak bisa dihapus begitu saja. Tidak heran ada orang yang terjebak dalam masa lalu sehingga tidak bisa melangkah lebih jauh dalam kehidupan. Bahkan ketika ia sudah merasa jauh melangkah, sesungguhnya ia tetap diam di tempat. Mirip penggambaran hewan yang ditambatkan pada pagar. Hidup tetapi tidak merasakan kebebasan sebenarnya.

Sekarang mari kita lihat kisah Abraham dalam Kejadian 11. Dengan berpegang pada janji Tuhan, ia pun keluar dari rumah orang tuanya dan pergi ke suatu tempat yang ditunjukkan Tuhan. Abraham meninggalkan masa lalunya dan ia pun menjadi diberkati secara luar biasa. Kalau saja Abraham tidak menuruti perintah Tuhan dengan beralasan sudah nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, tentu cerita Alkitab menjadi lain.

Inilah pertentangan itu. Keterikatan masa lalu seringkali bertentangan dengan keinginan Tuhan. Ketika Tuhan ingin kita menuju satu tujuan, Ia mau kita melangkah kesana. Bukan hanya memandang tujuan tersebut dari tempat kita berdiri sambil berharap keajaiban Tuhan membawa kita ke sana. Melepaskan ikatan masa lalu dan mulai melangkah adalah yang Tuhan mau. Saat kita melangkah, saat itulah Tuhan memberikan penyertaanNya. Dan saya percaya ketika Tuhan menyertai, kemenangan demi kemenangan akan kita alami.

Jadi buat apa terikat masa lalu kalau melangkah ke masa depan di dalam Kristus lebih baik?

Mazmur 119:133
Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku.

Friday, December 14, 2007

Hadapi realita dengan iman

Bukan hal yang aneh kalau belakangan ini kita sering mendengar bahwa kenyataan kehidupan seringkali menghimpit seseorang. Bahkan ada tayangan tv yang berjudul "Kejamnya Dunia" yang menceritakan realita menyedihkan dalam kehidupan seseorang orang.
Realita adalah suatu hal yang tidak bisa kita lenyapkan dalam pikiran kita. Karena itu, dibutuhkan kebijaksanaan untuk menghadapinya.

Firman Tuhan pun mengisahkan mengenai hal tersebut. Dan Firman Tuhan juga menceritakan bagaimana sikap yang diambil oleh mereka ketika menghadapinya. Salah satu yang dapat kita baca terdapat dalam ayat di bawah ini.
Roma 4 : 18-20
18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.


Inilah salah satu ayat yang menyatakan bahwa realita dihadapi dengan iman. Abaraham tahu bahwa realita bukanlah hambatan bagi Tuhan untuk berjanji. Manusia lah yang terhambat oleh realita. Keberadaan manusia secara jasmani seringkali membuat kita hanya melihat segala hal secara jasmani pula. Bahkan seringkali mengambil keputusan besar hanya berdasarkan apa yang kita lihat. Padahal sebagai pengikut Yesus, kita seharusnya memiliki iman yang percaya kepada setiap janjiNya - bahkan yang paling mustahil sekalipun.


Jadi, hadapilah realita dengan iman. Mungkin kita akan mendapatkan cemoohan orang. Mungkin kita akan seperti orang yang berjalan mundur ketika semua orang berjalan maju. Tapi, jangan takut karena Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu memegang orang yang percaya kepadaNya. Kalau Abraham dan Sara bisa mendapat anak ketika realita mengatakan tidak, masa kita tidak dapat mengalami hal seperti itu?

Tuhan Yesus memberkati.