Tuesday, November 17, 2009
Orang Buta Menuntun Orang Buta
Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.
Tuhan Yesus berkata demikian untuk menggambarkan orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem. Mereka digambarkan sebagai orang buta karena telah melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyang.
Hari ini saya mendapat firman tentang tuntunan.
Tuntunan berkaitan dengan otoritas. Saat kita meminta tuntunan, kita harus meminta pada otoritas yang lebih tinggi dari kita. Ingat waktu jaman Orde Baru? Menteri Penerangan saat itu kerap mengucapkan 'mantera' "Sesuai petunjuk Bapak Presiden...". Itu adalah sebuah bentuk tuntunan. Sang menteri tahu bahwa otoritas presiden lebih tinggi darinya dan sewajarnya ia mengucapkan mantera tersebut saat menerangkan segala sesuatu kepada masyarakat.
Sebenarnya hal ini sudah diketahui banyak orang. Saat seseorang membutuhkan nasihat, pasti mereka mencoba mencari orang yang punya kemampuan "lebih" dibanding mereka.
Yang menjadi pertanyaan, apakah orang yang telah dipilih tersebut adalah orang yang tepat? Seringkali kita hanya mengandalkan indera perasaan manusia semata untuk menilai seseorang dan lupa untuk bertanya pada Roh Kudus yang telah Tuhan tempatkan dalam diri kita. Salah pilih hanya mengakibatkan kita seperti orang buta yang dituntun orang buta seperti ayat di atas.
Bagaimana cara supaya tidak salah pilih?
Kembali pada otoritas tertinggi dalam hidup kita. Dalam hal ini, saya mengatakan bahwa otoritas tersebut hanya ada dalam Tuhan Yesus Kristus.
Lalu bagaimana kalau kita membutuhkan nasihat lewat manusia? Ya tinggal cari orang yang memiliki Roh Kudus dari Tuhan dalam diri mereka. Untuk yang satu ini, tentu kita harus mengenal detail bagaimana hidup orang tersebut. Jangan sampai kita datang pada "orang Farisi" dan "ahli Taurat" yang hanya punya tampilan ketuhanan tetapi kosong di dalamnya. Mungkin ada orang yang terlihat begitu “indah” dengan segala tingkah lakunya. Tapi, apakah keindahan tersebut memang berasal dari hatinya?
Matius 15:19 menyatakan, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat.” Tingkah laku dapat direkayasa manusia. Tetapi hati tidak bisa ditutupi.
Jadi, putuskan yang benar saat kita mencari tuntunan. Jangan cari dari "orang buta" karena mereka hanya akan membuat semua jatuh ke dalam lubang.
Dan sebaliknya, tuntunan yang benar akan membuat kita menjadi berkat bagi banyak orang.
Tuhan Yesus memberkati.
Monday, August 24, 2009
Siap Melayani Senantiasa
Saat itu, tidak banyak yang bisa saya katakan karena saya tidak siap. Saya hanya bisa mendengarkan ia berbicara dan melontarkan beberapa kalimat yang intinya Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Tuhan itu setia. Walau demikian, teman saya ini bergeming. Dan tampaknya perkataan saya itu hanya seperti minyak yang dituang ke api.
Dari pengalaman tersebut, ada tiga hal yang saya dapatkan.
1. Bersiaplah senantiasa. Kita tidak tahu kapan Tuhan mengirim orang untuk dilayani. Yang pasti, waktu Tuhan adalah waktu yang tepat.
2 Timotius 4 : 2, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
2. Cepatlah mendengar dan lambatlah berkata-kata. Orang yang memiliki masalah dan ingin menceritakannya kepada orang lain cenderung untuk memonopoli pembicaraan. Biarkan hal itu berlangsung. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan perkataan. Kadangkala kita harus diam mendengar dan membiarkan Tuhan yang bekerja.
Yakobus 1 : 19, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat utuk marah;
3. Pakai kata-kata yang tepat untuk berbicara. Kata yang tepat bukan berasal dari dalam diri kita. Kata itu harus berasal dari Roh Kudus. Lebih baik satu kata yang tepat daripada satu kalimat yang hanya memperkeruh suasana.
Amsal 25 : 11 “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”
Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
Monday, August 10, 2009
Mengerti Dengan Hati
Seberapa sering anda membaca atau mendengar firman Tuhan tetapi anda tidak dapat mengerti yang didengar atau dibacakan?
Kalau anda terlalu sering tidak mengerti apa yang anda baca atau dengar, maka anda harus berhati-hati. Apalagi kalau hidup anda tidak berubah menjadi selaras dengan firman Tuhan. Artinya “Si Jahat” telah bekerja dalam hidup anda dan anda tetap membiarkannya melakukan hal tersebut.
Tentu kita sudah sering mendengar perumpamaan ini. Seorang penabur menabur benih dan jatuh ke berbagai tempat yang berbeda. Di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik. Hanya yang di tanah yang baik lah benih tersebut akhirnya berbuah; mulai dari tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, sampai seratus kali lipat. Sisanya? Tidak ada yang berbuah. Ada yang habis dimakan burung, tumbuh sesaat tetapi lalu mati karena tidak berakar, dan ada juga yang dapat tumbuh tetapi akhirnya mati juga karena dihimpit semak yang semakin membesar.
Apa artinya? Pasti kita sudah dapat membaca atau mendengar saat dikhotbahkan dari atas mimbar. Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kita mengerti apa yang kita baca atau dengar tersebut?
Saya punya pengalaman dengan seorang karyawan saya. Saat mengoreksi pekerjaannya, secara jelas ia dapat membaca dan mendengar apa yang saya nyatakan. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali kepada saya dengan pekerjaan yang “sudah ia perbaiki”. Dan saya mendapati kesalahan yang sama terulang. Ternyata, ia tidak mengerti apa yang saya katakan. Ia melihat dan mendengar, tetapi tidak mengerti.
Mengerti sering kali dikaitkan dengan nalar manusia. Tetapi dalam ayat yang kita baca, tersirat bahwa Tuhan ingin kita mengerti dengan hati. Mengapa? Karena hati memegang peranan penting dalam hidup orang percaya. Matius 15 : 18 – 19 menyatakan “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat”. Matius 15 : 32 menyatakan karena hatiNya tergerak belas kasihan, maka Tuhan Yesus memberi makan empat ribu orang. Semua berawal dari hati. Dan itu juga alasan mengapa Tuhan menabur benih firman di hati manusia. Tuhan mau memperbaharui kita dari sumbernya. Kalau sumber air sudah jernih, maka air yang mengalir keluar juga sama.
Karena itu kita perlu kembali memeriksa keadaan hati kita. Apakah hati kita telah “menebal” sehingga benih tidak dapat masuk sehingga ia hilang begitu saja? Atau hati kita “menebal” dengan berbagai macam penindasan dan penganiayaan karena firman? Atau kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghalau benih itu berbuah? Hati yang menebal, telinga yang berat mendengar, dan mata yang melekat tertutup adalah penghalang bagi benih firman Tuhan untuk dapat tumbuh dan berbuah.
Sebagai sebuah awalan, periksa kembali hati kita saat-saat ini. Hilangkan rintangan yang membuat hati kita “tebal”. Ketika semua batu dan semak belukar telah kita hilangkan, jaga hati kita agar tetap menjadi tanah yang subur agar benih firman Tuhan dapat tumbuh dan berbuah. Dengan hati yang siap, kita dapat dengan mudah mengerti firman Tuhan. Dan dengan itu, tidak mustahil segala macam berkat Tuhan yang tidak kita pernah dengar atau lihat atau bayangkan akan terjadi dalam kehidupan kita.
Tuhan Yesus memberkati.
Monday, April 20, 2009
Pelayanan Kristiani
Sabtu malam, saya sempat menyaksikan sebuah film seri jaman dulu di
stasiun tv lokal CTC channel. Judulnya 'Touched By An Angel'. Kalau
tidak salah, dulu sempat ditayangkan oleh TVRI atau kalau tidak RCTI
di era 80-an.
Film seri ini menceritakan dua malaikat yang ditugaskan ke dunia untuk
menyampaikan pesan Tuhan bagi orang-orang tertentu.
Nah, kemaren, film ini bercerita mengenai seorang tua bernama Sam. Ia
memiliki klub jazz bernama 'Indigo' dimana para tetua musik jazz dan
blues pernah bermain di sana. Beberapa orang diantaranya seperti Isaac
Hayes, Al Jerrau, dan B.B. King. Lewat beberapa masa, klubnya pun
mulai ditinggakan orang. Cucunya, bernama Isaac, yang tinggal di kota
lain datang untuk menjual klub tersebut dan membawa Sam tinggal di
panti jompo di kota lain. Tentu saja hal itu ditentang Sam. Apalagi
kedatangan Isaac berdekatan dengan 'Hot Mic Night' yang merupakan
acara regular pemusik yang menjadi ikon klub tersebut. Walau demikian,
Isaac bergeming. Ia mengadakan pertemuan dengan calon pembeli yang
ingin mendirikan tempat parkir tepat dimana klub itu berdiri.
Seperti disebutkan di atas, ada 2 malaikat yang menjadi inti cerita.
Malaikat yang satu lebih 'senior' dibanding yang lain. Malaikat yang
junior mendapat tugas untuk menyampaikan sesuatu kepada Sam. Dan
ternyata di tempat itu pun sudah datang malaikat kematian. Tampaknya,
waktu hidup bagi Sam telah berakhir. Tetapi sebelum itu, ada pesan
dari Tuhan yang harus disampaikan sebelum Sam menutup mata.
Dan di acara 'Hot Mic Night', yang dihadiri para legenda jazz, Sam
pergi meninggalkan dunia dan klubnya diteruskan oleh sang cucu -
Isaac.
Film ini sangat sarat pesan kristiani. Banyak pelajaran aplikasi
firman Tuhan secara praktis dalam kehidupan diperlihatkan di sini.
Dalam episode kali ini, pesan bagi Sam adalah hal yang membekas bagi
saya.
Sepanjang hidup Sam, ia hanya mengetahui soal musik. Secara konsisten,
ia berusaha menjadikan Klub Indigo menjadi tempat yang nyaman bagi
semua orang. Dengan tangan terbuka ia menerima mereka. Ia tidak
mempedulikan apakah tamu itu seorang pecundang atau bangsawan. Ia
hanya mau memberikan cinta nya bagi setiap tamu yang masuk ke dalam
ruangan klub jazz miliknya. Saat situasi berubah, dimana orang tidak
lagi mendengarkan Jazz, ia tetap berusaha keras menjalankan klub.
Untuk itu ia rela berhutang dan melakukan apa pun. Bukan karena
ambisinya tetapi karena kesetiaannya pada sebuah janji.
Pesan bagi Sam yang disampaikan oleh malaikat cukup singkat. Ia telah
setia mengisi klubnya dengan cinta sehingga semua orang yang berada di
dalamnya merasakan hal tersebut. Kesetiaan itu diganjar dengan upah di
Sorga yang melebihi harta dunia ini.
Hal itu yang membuat saya merenung 2 hal dalam sebuah pelayanan. Yang
pertama adalah 'warna' dan yang kedua adalah 'kesetiaan'.
Setiap pelayanan mempunyai 'warna'. Apa maksudnya warna? Warna adalah
satu ciri khas yang diberikan oleh pelayanan tersebut. Ini bukan
cerita bentuk atau media pelayanan tetapi lebih pada hal yang
tersirat. Bentuk dan warna pelayanan dapat diumpamakan seperti sebuah
permen. Bungkus permen adalah bentuk pelayanan dan rasa permen adalah
warna pelayanan tersebut.
Pernah memperhatikan bungkus permen? Biasanya bungkus permen
mencerminkan rasa yang dimilikinya. Itu mengapa permen coklat hampir
selalu mempunyai warna pembungkus yang senada coklat. Atau permen mint
punya pembungkus dengan warna hijau atau yang senada. Semua itu usaha
agar pembeli dengan mudah mengidentifikasi rasa apa di dalamnya.
Demikian pula sebuah pelayanan. Bersama teman gereja mengunjungi orang
sakit dapat dengan mudah diidentifikasi sebagai pelayanan kristiani.
Tergabung dalam komisi pemuda dan ikut paduan suara dapat dengan mudah
dikatakan sebagai pelayanan kristiani. Tapi, apakah pemutaran film
sekuler di sebuah gereja dapat dikatakan sebuah pelayanan kristiani?
Pelayanan kristiani dapat dikatakan kristiani apabila, minimal, ada
tanda buah Roh di dalamnya. Galatia 5 : 22 - 23 menyatakan buah Roh
adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Warna inilah
yang minimal ada dalam setiap pelayanan kristiani.
Pelayanan paduan suara gereja, apabila tidak ada tanda buah Roh di
dalamnya, apakah ini tetap pelayanan kristiani? Atau kepengurusan
gereja, apabila di dalamnya tidak ada buah Roh, apakah ini sebuah
pelayanan kristiani?
Bentuk pelayanan kita bisa berbeda; baik itu dalam bentuk yang umum
dipakai gereja atau bentuk yang sangat sekuler. Tetapi kalau ada warna
buah Roh dalam pelayanan tersebut, maka itu adalah pelayanan yang
Tuhan inginkan.
Masalahnya, banyak orang hanya mempermasalahkan sebuah bentuk
pelayanan tetapi tidak mau merasakan warna apa di dalamnya. Karena itu
jangan heran apabila ada orang mempertanyakan pelayanan kita karena
mereka hanya melihat bungkus luarnya saja. Bagi mereka, bungkus permen
adalah harga mati untuk menilai rasa. Apakah mereka salah? Bagi saya,
orang-orang tersebut hanya melihat dari sisi lain yang tidak orang
lain lihat. Mereka tidak salah karena memang sebuah benda bisa dilihat
dari banyak sisi. Apa yang harus dilakukan bagi mereka? Berkoar-koar
menceritakan rasa permen hanya akan membuat kita kehabisan nafas.
Mungkin bisa, tetapi itu adalah hal yang sangat menguras energi. Yang
harus kita lakukan, tentu saja dalam konteks iman dalam Tuhan Yesus,
adalah minta hikmatNya - seperti Salomo meminta hikmat untuk
menyelesaikan permasalahan, demikian pula yang harus kita lakukan.
Jangan dengan emosi kita mengambil tindakan yang akhirnya hanya akan
membuat pelayanan berantakan. Ingat bahwa pelayanan kita adalah juga
melayani Tuhan. Buat apa kita merubah bentuk pelayanan demi memuaskan
manusia tetapi melupakan keinginan Tuhan? Yang terpenting adalah apa
yang Tuhan mau. Atau sederhananya 'WWJD' - What Would Jesus Do?
Apabila sebuah pelayanan telah Tuhan tetapkan menjadi bagian kita,
usaha manusia menentangnya pasti akan kandas karena Tuhan yang berdiri
sebagai pembela kita.
Hal yang kedua adalah kesetiaan. Saat badai cobaan atau pun kesukaan
datang menerpa pelayanan kita, apakah kita tetap setia pada apa yang
telah kita berikan bagi pelayanan tersebut? Ada saat dimana duka
menyelimuti pelayanan kita. Mereka yang tidak kuat bisa saja
kehilangan semangat sehingga warna dalam pelayanan tersebut hilang.
Kehilangan warna dalam pelayanan mengakibatkan pelayanan tersebut
menjadi hambar. Bagaimana warna tersebut dapat bertahan? Dengan
kesetiaan setiap pelayan yang ada di dalamnya. Satu hal yang harus
dicermati, saya tidak sedang bicara mengenai kesetiaan pada bentuk
pelayanan. Tetapi kesetiaan pada warna pelayanan. Paulus mengatakan
dalam I Korintus 9 : 19 - 23 bahwa ia seperti orang Yahudi untuk
memenangkan orang Yahudi dan ia pun seperti orang yang hidup di bawah
hukum Taurat untuk memenangkan mereka, dan seterusnya. Paulus mau
berubah-rubah 'bentuk' karena Injil dan supaya ia mendapat bagian di
dalamnya. Ia berusaha memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan dengan tidak
terikat kepada sebuah bentuk. Satu hal yang pasti, seperti ia katakan
dalam ayat 21, bahwa walau ia menjadi seperti orang yang tidak hidup
di bawah hukum Taurat untuk memenangkan mereka, tetapi ia tetap hidup
di dalam hukum Kristus.
Inilah kesetiaan itu. Bukan kesetiaan yang terbatas hanya pada sebuah
bentukan tetapi jauh melampaui itu dimana tujuan sesungguhnya dari
pelayanan berada. Untuk melayani Tuhan dan sesama.
Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
Perbedaan Marta dan Maria
Walau Marta dan Maria sama-sama mengasihi Tuhan Yesus dan demikian sebaliknya, antara mereka berdua ada perbedaan di mata Tuhan. Perbedaan inilah yang akan dibahas kali ini.
Dalam Lukas 10 : 38-42 Tuhan Yesus datang ke Betania dan ia masuk ke rumah Marta, Maria, dan Lazarus. Marta sibuk melayani Yesus dan murid-muridNya sementara Maria hanya duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkanNya. Melihat hal tersebut Marta meminta Tuhan Yesus menyuruh Maria membantunya. Tetapi Tuhan malah menegur Marta.
Inilah perbedaan Marta dan Maria.
1. Keintiman dengan Tuhan (intimacy)
Dengan duduk dekat kaki Tuhan, Maria memperlihatkan bahwa ia mau intim dengan Tuhan.
Sementara Marta sibuk melayani hal-hal jasmani. Marta akhirnya hanya sibuk dengan banyak perkara dan itu membuatnya pusing.
2. Rendah hati (humble)
Yohanes 11 : 1 - 3, 6
Waktu itu Lazarus hampir mati. Maria dan Marta mengabari Yesus mengenai keadaan Lazarus. Tapi Tuhan dengan sengaja menunda sampai 2 hari, baru kemudian pergi ke Betania. Ia melakukan hal itu karena ada rencana luar biasa bagi Marta, Maria, dan Lazarus.
Setelah 2 hari terlambat, Yesus datang dan Lazarus telah mati. Marta segera pergi mendatangi Tuhan Yesus sementara Maria diam di rumah. Marta mengatakan bahwa Yesus datang terlambat dan Lazarus telah mati. Tapi Tuhan tidak menggubrisnya. Selang beberapa waktu, Maria menyusul Marta ke tempat Tuhan berada. Maria tersungkur dan menangis di depan kaki Yesus. Melihat hal tersebut, hati Tuhan pun masygul. Karena kerendahan hati Maria, Tuhan Yesus ikut menangis. Tuhan tergerak dan Ia pun membangkitkan Lazarus. Kita bisa membaca bagaimana Marta dan Maria berkata hal yang sama ketika Yesus datang saat Lazarus meninggal. Tetapi hati Tuhan hanya tergerak dengan tindakan Maria. Maria tersungkur di depan kaki Yesus. Ia menunjukkan kerendahan hatinya sehingga Tuhan mau segera turun tangan mengadakan mujizat.
3. Memberi yang terbaik (Giving the best)
Yohanes 12 : 1 - 5
6 hari sebelum Paskah, Marta, Maria, dan Lazarus mengadakan perjamuan bagi Yesus. Maria mengambil Minyak Narwastu yang mahal harganya untuk mencuci kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya. Maria seperti telah mendapat pewahyuan bahwa 6 hari ke depan Yesus akan mati. Sementara murid Yesus, Yudas Iskariot, tidak mendapat visi tersebut. Ia menganggap Maria melakukan hal yang tidak baik dengan memboroskan sesuatu yang berharga. Seperti Maria, apa kita mau memberikan yang terbaik bagi Tuhan menjelang kedatanganNya yang kedua?
Tuhan Yesus memberkati.
Saturday, April 18, 2009
Membangun Hidup
saya merenungkan arti "membangun hidup".
Dalam surat Paulus kepada Jemaat Korintus, dalam pasal 3 ia menyoroti
secara khusus mengenai "Perselisihan" serta "Dasar dan bangunan"
(judul yang diberikan LAI). Walau ada dalam satu perikop, tapi jarang
sekali saya mengaitkan keduanya. Padahal kalau kita perhatikan, ada
kesinambungan topik yang Paulus angkat. Hal ini diangkat karena pada
waktu itu ada kecenderungan jemaat di Korintus terbagi dalam beberapa
kelompok dan mempunyai potensi untuk pecah. Karena itu secara tegas
Paulus menyatakan bahwa hal itu tidak boleh terjadi karena semua
jemaat dibangun atas dasar yang sama yaitu Yesus Kristus (1 Kor 3 :
11) dan semua jemaat adalah milik Kristus (I Kor. 3 : 23).
Saya merenungkan perikop ini seperti sebuah bangunan. Setiap bangunan
punya dasar atau pondasi. Pondasi ini adalah benda terakhir dari
sebuah bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah keras.
Pondasi bangunan A bisa sama dengan bangunan B. Tetapi rupa bangunan A
bisa berbeda dari bangunan B. Jadi bangunan di atasnya bisa berbeda
bentuk walau pondasinya berbentuk sama.
Inilah yang Paulus lihat dalam Jemaat Korintus. Mereka punya pondasi
yang sama yaitu Yesus Kristus. Walau demikian, para pengajar yang
berbeda membuat "bangunan" yang dibuat di atasnya menjadi berbeda.
Keadaan ini lalu menjadi runyam karena tingkat kedewasaan jemaat belum
tinggi (I Kor 3 : 1 - 2). Mereka mengelompokkan diri dalam golongan A
dan golongan B dan akhirnya muncul iri hati dan perselisihan yang
sebenarnya tidak perlu.
Sebenarnya, hal ini pun juga bisa terjadi dalam kehidupan jemaat saat
ini. Sadar atau tidak, ada diantara kita ada yang senang
mengotak-ngotakkan diri dalam kelompok dan memandang hanya kelompoknya
yang benar. Atau bisa juga lebih kecil, setiap orang mengelompokkan
dirinya dalam kelompok "saya" sehingga dengan mudahnya muncul iri hati
dan perselisihan dengan orang lain.
Apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?
1. Kita masih manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.
Keduniawian dengan kedewasaan dalam Kristus berbanding terbalik.
Semakin kita dewasa, dalam Kristus, maka semakin kita kehilangan jati
diri sebagai manusia duniawi. Hal ini disebabkan adanya Roh Kudus yang
mengganti ke-duniawi-an tersebut dengan hikmat Elohim.
I Kor 2 : 14
"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh
Elohim, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak
dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani."
Semakin kita dewasa dalam Kristus, semakin kita sadar bahwa manusia
duniawi tidak akan mampu memahami dunia dan berkat yang telah Tuhan
sediakan.
2. Kita tidak memperhatikan bagaimana kita membangun di atas dasar
tersebut (I Kor 3 : 10).
Ketika seorang membangun rumah, maka ia merencanakan terlebih dahulu
material pembuat rumahnya. Pondasi akan dibuat berdasarkan kebutuhan.
Bangunan dari tripleks tidak membutuhkan pondasi gedung bertingkat
tinggi. Demikian sebaliknya. Jadi pondasi yang digunakan harus tepat.
Sekarang, bagaimana kalau pondasinya sudah ada? Tentu kita harus
membangun sesuai dengan pondasi tersebut. Jangan melebihi kemampuannya
karena bangunan kita tidak akan kuat dan juga jangan kurang dari
kemampuan pondasi karena pondasi akan menjadi sia-sia.
Paulus menyatakan bahwa dasar kita adalah Yesus Kristus. Ini adalah
dasar yang sangat kuat. Dengan dasar yang kuat itu, "bangunan
kehidupan" kita pun harus sesuai dengan pondasi yang ada. Buat apa
kita punya kehidupan yang terbang begitu angin datang; padahal kita
punya pondasi yang kokoh. Hidup kita tidak akan berarti kalau kita
tidak membangunnya secara tepat sesuai dasar yang telah ada. Jadi,
bangun hidup kita sesuai dengan dasar Yesus Kristus agar saat ujian
datang, hidup kita tetap berdiri kokoh.
3. Berhikmat menurut dunia (I Kor 3 : 18).
Paulus menyatakan bahwa hikmat dunia adalah kebodohan bagi Elohim.
Bahkan rancangan orang berhikmat tersebut dianggap sia-sia belaka.
Tapi, hal itu tidak mengurangi orang mengejar hikmat dunia. Bahkan
tidak jarang ada orang yang memegahkan diri dengan hikmat tersebut.
Hikmat dunia tidak akan membuat kita mengenal Tuhan. Bahkan ia dapat
membuat kita menjauh dari pengenalan akan Tuhan. Hanya hikmat Tuhan
yang membuat kita dapat membangun bangunan kokoh di atas dasar
Kristus.
Mau terhindar dari perselisihan dan iri hati?
Perhatikan "bangunan kehidupan" kita. Kita semua telah memiliki dasar
yang kuat yaitu Yesus Kristus. Hikmat dan kedewasaan di dunia tidak
bisa menjadikan bangunan kehidupan kita kokoh. Hikmat Tuhan dan
kedewasaan di dalam Kristus lah yang mampu membuat bangunan kita kuat
dan tetap berdiri saat api Tuhan datang menguji.
Selamat membangun bangunan kehidupan. Tuhan Yesus memberkati.
Friday, April 10, 2009
Jebolnya Tanggul Situ
Pemberitaan yang terus menerus membuat saya bertanya apa arti rohani kejadian ini. Dan inilah yang saya dapatkan.
Situ Gintung dapat diibaratkan seperti kehidupan kita. Tanggul diibaratkan seperti iman seseorang dan air di dalamnya adalah kehidupan.
Sedikit kronologis jebolnya tanggul Situ Gintung. Semua diawali dengan curah hujan tinggi yang membawa air dalam jumlah besar ke dalam situ. Karena tanggul memiliki sistem pelimpasan (spillway) maka air yang berlebih tersebut dapat tumpah ke sana. Sayangnya, kondisi pelimpasan sudah tidak sempurna sehingga retakan pada bagian tersebut akhirnya menjadi lubang besar menganga yang membawa air bah ke perumahan penduduk.
Seperti yang sudah saya nyatakan di atas, air dalam situ diibaratkan seperti kehidupan. Iman kita adalah tanggul. Saat ini, krisis yang sedang melanda dunia dapat diibaratkan debit air yang meninggi dalam air kehidupan. Iman kita, sebagai tanggul pertahanan, diperhadapkan dengan air dengan tekanan tinggi. Keadaan ini tentu saja tidak bisa dihindari. Yang bisa dihindari adalah jebolnya tanggul iman tersebut.
Bagaimana tanggul iman seseorang dapat jebol? Sama seperti tanggul situ, semua bermula dari retakan kecil. Ketika retakan itu terus menerus mendapat tekanan hidup, dan kita tidak menyadari dan segera mengambil tindakan, maka sudah bisa dipastikan kehidupan kita akan dilanda air bah. Berikut ada tips agar kita tidak membiarkan retakan itu muncul.
1 Petrus 5 : 8
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Ayat di atas mengumpamakan kita sebagai buruan dan Iblis sebagai pemburu. Pernah lihat tayangan tv yang menggambarkan perburuan singa?
Singa yang sedang berburu akan memanfaatkan keadaan sekitar dan juga keadaan lawan. Dengan diam-diam, ia berusaha mengejutkan mangsa yang diincarnya. Dengan kejutan tersebut, ia berharap lawannya akan terlambat menyadari hal yang terjadi sehingga lebih mudah untuk disergap.
Iblis, yang menjadi pemburu kita, walau digambarkan sebagai singa tetapi tidak berburu seperti singa di kehidupan nyata. Ia tidak berjalan pelan-pelan dalam keheningan melainkan mengaum-aum untuk menyatakan kehadirannya.
Saya tidak bisa berhenti tersenyum ketika mrnyadari hal ini. Siapa yang bisa ditangkap oleh singa yang mengaum? Buruan pasti akan langsung lari begitu menyadari ada kehadiran sang pemburu. Tetapi ayat di atas menyatakan hal yang berbeda. Tampaknya ada buruan yang begitu bodohnya sehingga, walau singa telah mengaum, tetapi mereka tidak tahu. Mereka tidak sadar dan tidak berjaga-jaga sehingga perlu diingatkan bahwa singa telah ada di sekitar hidup mereka.
Pertanyaannya, apakah kita sadar dan berjaga-jaga? Sebagai seorang buruan, apakah kita telah menyadari dan berjaga-jaga atas kehadiran singa di sekitar kita? Singa pasti akan berjalan keliling. Dan kita harus sadar dan berjaga-jaga. Jangan sampai kita menjadi lengah dan lalai sehingga kita dimangsanya.
Itulah cara mengatasi keretakan pada tanggul iman kita. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal sederhana, pertahanan kita retak akibat tekanan kehidupan. Jujur, saya pun mengalaminya. Mulai dari kesal karena gaya menyetir orang di depan saya, atau penyeberang jalanan yang sembarangan, dan hal-hal sepele lainnya.
Seperti yang ayat di atas nyatakan, seharunya kita sadar dan berjaga-jaga. Memang hal-hal yang kecil tidak akan terlihat berarti kalau dibandingkan iman percaya kita kepada Tuhan. Tetapi ingat bahwa runtuhnya tanggul Situ Gintung dimulai dari sebuah retakan kecil.
Jadi, mari kita sadar dan berjaga-jaga dalam menjalani hidup ini. Singa berjalan keliling dalam kehidupan kita. Ia tahu bahwa tidak mungkin langsung menyerang tanggul iman yang besar. Maka ia mencari kelengahan-kelengahan kita dalam hal kecil dan lewat hal itu ia akhirnya bisa menerkam kita.
Tuhan Yesus memberkati.
Menjadi Relevan
Pdt. Daniel Arif
Menjadi relevan dengan kehendak Tuhan. Mengapa? Karena kita hidup di zaman yang perubahannya begitu cepat. Itu mengapa pola hidup kita pun bisa berubah dengan cepat. Bahkan berubah sehingga tidak seturut dengan kehendak Tuhan.
Hidup kita dan kehendak Tuhan seumpama potongan puzzle. Untuk bisa fit, maka bentuknya harus pas.
Matius 3 : 12
Alat penampi sudah di tanganNya. Ia akan membersihkan tempat pengirikanNya dan mengumpulkan gandumNya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tidak terpadamkan.
Kulit luar dari padi amat relevan sampai bulir padinya mulai muncul. Saat bulir itu datang, maka kulit luar padi akan dibuang dan dibakar sampai habis.
Demikian waktu awal kita bertobat. Hidup kita, kelakuan kita, dan lain sebagainya selaras dengan Firman Tuhan. Tetapi ketika perubahan mulai muncul, kita kembali tidak relevan seperti gabah. Dan yang tidak relevan, tempatnya adalah di api; dengan kata lain hukuman.
Kita memang ada di dunia yang berubah. Tetapi kita tidak boleh sama dengan dunia. Kita harus tetap relevan dengan kehendak Tuhan walau krisis dan masalah menghadang. Sampai hari ini, apakah hidup kita masih selaras dengan Tuhan? Ini menentukan nasib kita kemudian; masuk lumbung atau masuk api (dipelihara atau dimusnahkan).
Bruce Lee waktu ditanya mengapa bisa laku di film-film Amerika mengatakan, 'Take things as they are. Punch when u have to punch. Kick when u have to kick'. Itu yang menyebabkan ia menjadi besar. Ia tidak berpikir untuk menambahkan apa yang diperintahkan. Lakukan tanpa mengurangi atau menambahkan.
Demikian seharusnya prinsip kita. Jangan tambahkan atau kurangi perintah Tuhan bagi kita. Tuhan bilang ampuni, maka kita harus mengampuni tanpa banyak alasan. Dengan menambah atau mengurangi perintah Tuhan, maka kita akan menjadi tidak relevan dengan kemauan Tuhan.
Di Alkitab, ada orang bernama Lot. Awalnya ia ada ikut dalam rombongan Abraham yang relevan dengan kehendak Allah. Akibatnya, ia diberkati. Kekayaannya sebanyak kekayaan Abraham. Saat ada Sodom dan Gomora muncul. Selera Lot berubah dan ia menjadi tidak relevan dengan Tuhan karena Tuhan membenci dua kota tersebut. Pada akhirnya, semua hartanya habis dan ia pun melahirkan keturunan yang dikenal sebagai Bangsa Amon dan Moab yang selalu dimusuhi Tuhan.
Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bergaul mengikuti trend yang ada. Lihat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka hidup di Babel dan di bawah orang yang tidak mengenal Tuhan. Tapi mereka bisa mempertahankan hidupnya relevan dengan kehendak Tuhan.
Uang logam China jaman kekaisaran disebut 'Fang Yu Yuan' berbentuk bulat dengan kotak di dalam. Filosofinya, diluar kita fleksibel (dengan bentuk bulat) tetapi di dalam kita harus tegas (yang diwakili oleh bentuk kotak). Kita boleh bergaul di luar dengan semua orang tetapi di dalam kita harus tegas menjaga tradisi. Strictness and Flexibility.
Orang Kristen harus mencontoh filosofi ini. Di luar kita hidup dengan banyak orang tetapi di dalam kita harus hidup sesuai dengan Firman Tuhan.
Menjadi relevan di hadapan Tuhan bukan berarti kita harus ada di gereja terus dan tidak tersentuh kehidupan modern atau kemajuan zaman. Hal jasmaniah harus fleksibel. Yang penting dalam hati kitak tidak berubah. Tetap teguh dan tegas memegang perintah Tuhan.
Henry Ford dikenal sebagai orang jenius. Dalam 30 menit ia bisa membuat konsep kendaraan yang berbeda. Ford model T buatannya menjadi mobil yang paling laku saat itu. Tetapi saat zaman berubah, ia tidak merubah modelnya dan ia bangkrut. Ia dikalahkan pabrikan lain yang lebih mengikuti perkembangan zaman.
Tuhan Yesus pun disukai Elohim dan manusia. Kita harus mencontoh Tuhan. Kita jangan menilai segala sesuatu berdasarkan jasmani. Penampilan luar harus fleksibel tetapi penampilan dalam kita harus tetap tegas. Keselamatan, kekudusan, kebenaran tidak dikompromikan.
Benjamin Franklin berkata, 'Berubah itu mungkin sulit, tapi tidak berubah itu pasti fatal'. Kita harus siap diubah dan tidak kaku. Tanpa harus mengkompromikan hal esensial.
Roma 12 : 2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu bisa membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Ada bagian yang harus tegas dan ada bagian yang flksibel. Jadilah orang Kristen yang tetap relevan bagi Allah untuk menyenangkan-Nya dan relevan bagi sekitar kita agar dapat menjadi berkat bagi mereka. Paulus berkata ia menjadi seperti orang Yahudi dan Yunani tetapi tidak kompromi dengan kejahatan mereka.
Kita dicipta dan diberkati oleh Tuhan untuk tetap hidup di dunia tetapi kita tidak boleh dimasuki dunia. Inilah menjadi serupa dengan dunia.
Kisah Para Rasul 13 : 22
Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati Ku dan yang melakukan segala kehendakKu.
Saul tidak relevan sehingga ia disingkirkan. Dan Daud relevan karena ia melakukah kehendak Tuhan. Saul merubah apa yang harus dipertahankan dan mempertahankan apa yang harus dirubah saat ia mempersembahkan korban sendiri bahkan pergi ke dukun untuk bertemu Samuel.
Mari menjadi relevan. Tuhan mau kita menjangkau dunia. Hidup kudus bukan berarti kurang pergaulan. Kita harus ikuti perkembangan dunia untuk menjangkau mereka tanpa harus mengkompromikan hal yang esensial dalam hati kita.
Amin.
Sunday, January 25, 2009
Bukan Karena Uang
pekerjaan yang sekarang sedang saya jalani.
Izinkan saya menceritakan sedikit hal yang akan membuat kita semua dapat
mengerti hal ini.
Pekerjaan saya sebelum sekarang adalah arsitek freelance. Saya, istri, dan
sepasang rekan seangkatan (dan juga sepelayanan) sepakat mendirikan sebuah
biro arsitek. Pekerjaan demi pekerjaan kami jalani sampai pada saat
tiba-tiba semua hal seakan terhenti. Proyek yang tertunda, batal, bahkan
pembayaran dari klien yang tersendat bermunculan di hadapan kami. Dan
dimulailah episode yang berat dalam kehidupan saya dan istri.
Situasi keuangan yang memburuk dan kebutuhan yang terus ada membuat kami
menjalani hari demi hari dengan perhitungan yang ketat. Uang yang kami
dapat langsung dikalkulasi agar dapat pas, syukur-syukur ada buat
ditabung, sampai kami mendapat uang kembali yang kadang kami tidak tahu
waktunya kapan.
Walau demikian, puji Tuhan, kami tidak berjalan sendirian. Ketika kami
berada dalam krisis, kami tahu bahwa Tuhan Yesus tidak membiarkan kami
jatuh tergeletak begitu saja. Ia memberikan pengajaran dan bimbingan yang
luar biasa sehingga kami dapat terus bertahan. Secara pribadi saya berkata
bahwa keadaan krisis tidak akan membuat saya kehilangan iman. Saya mau
tetap percaya kepada-Nya.
Singkat kata, di November 2008, datanglah tawaran untuk bekerja di
Jakarta. Dari banyak hal yang Tuhan berikan bagi saya mengenai ini, Ia
secara jelas mengatakan bahwa pekerjaan saya ini bukan karena uang yang
besar. Terus terang saya heran. Saat itu, secara finansial, jelas saya
kekurangan dan pekerjaan ini dapat menutupi hal itu. Tapi mengapa Tuhan
katakan pekerjaan ini bukan karena uang? Secara gamblang Tuhan mau, saat
orang bertanya mengapa saya ambil pekerjaan itu, saya tidak berkata bahwa
motivasi saya bukanlah uang. Walau mungkin kedengaran aneh, saya coba
lakukan hal itu.
Dan saat ini, Januari 2009, saya tahu mengapa.
Dari awal tahun 2009 sampai sekarang saya sedang mengerjakan sebuah proyek
yang memiliki tenggat waktu yang singkat. Walau saya karyawan dengan
status non-permanent, atas desakan klien, saya diizinkan menjadi "team
leader" yang membawahi 3 arsitek dan beberapa draftman. Untuk mengejar
target, setiap hari saya harus bekerja kurang lebih 10 sampai 12 jam
karena, selain mengerjakan bagian saya, ada tugas lain yaitu memeriksa
gambar yang dibuat oleh tim. Nah, karena saya dibayar berdasarkan jam yang
saya berikan untuk proyek itu, maka tentu saja uang yang didapat semakin
besar. Ketika saya sedang menghitung berapa uang yang akan dihasilkan dari
proyek ini,Tuhan mengingatkan saya kembali kepada bulan November tahun
lalu.
Saat itulah saya mengevaluasi keberadaan saya. Sebagai seorang team
leader, saya berhadapan dengan banyak orang. Kadang situasi yang saya
hadapi tidak menyenangkan. Saya harus bisa mengerti keadaan bawahan sambil
tetap menjaga target. Hal paling berat adalah saat harus menjelaskan
kepada klien mengenai keterlambatan target dan membahas proyek secara
keseluruhan - dalam bahasa Inggris (waduh...padahal saya bukan pengguna
aktif). Mengeluh bukan lagi hal aneh buat saya dalam bulan Januari ini.
Mengeluh karena pekerjaan, mengeluh karena bawahan yang lambat, mengeluh
karena hal teknis, dan bahkan mengeluh karena macet yang membuat saya
terlambat masuk kantor.
Hari Jumat saya mengikuti Persekutuan Doa AGAPE di gedung tempat kantor
saya berada. Pembicaranya adalah Pdt. Jesse Lantang. Ia berbicara mengenai
hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Ada beberapa perkataan
beliau yang terus tercatat dalam benak saya.
1. Pergaulan kita harus intim dengan Tuhan.
Keintiman antar manusia menghasilkan anak sementara keintiman dengan Tuhan
menghasilkan Buah Roh. Saat itu saya tertampar. Keluhan saya akan
pekerjaan membuat saya kehilangan sukacita dan dama sejahtera. Ini berarti
keintiman saya dengan Tuhan telah terusik dengan keintiman saya dengan
pekerjaan. Tidak heran Tuhan ingatkan kembali mengenai "bukan karena
uang". Motivasi saya untuk lembur sedikit banyak dipengaruhi oleh uang
yang saya dapatkan. Tuhan tidak suka itu. Ia mau saya kembali intim
dengan-Nya.
2. Hubungan dengan manusia berarti kita tidak menjadi sama dengan orang
dunia tetapi bercampur dengan mereka.
Garam tidak ada gunanya kalau hanya berkumpul dengan garam. Ia harus masuk
dalam masakan agar menjadi hidangan lezat. Secara kuantitas, garam yang
sedkit bisa untuk masakan sepanci. Itulah pengikut Kristus. Walau sedikit
di tempat kerja, ia harus punya dampak. Saya juga teringat perkataan Pdt.
Jesse, "walk extra mile". Orang Krsten harus mau menjalani jarak lebih
jauh daripada yang diminta. Bagi saya ini seperti melampaui target yang
diberikan. Bukan karena mengejar kepuasan atau penghargaan, tetapi sebagai
cerminan kasih.
Saat keluar ruangan, saya baru mengerti perkataan "bukan karena uang".
Tuhan telah berikan satu kesempatan bagi saya lewat pekerjaan saat ini. Ia
mau saya menjadi garam. Itu hal utamanya. Upah dalam bentuk uang hanyalah
efek samping yang ditimbulkan.
Selama menjalani proyek ini, saya begitu tertekan oleh deadline yang ada.
Karena itu, jujur saya akui, saya seringkali mengkompensasi keletihan
dengan uang yang didapat. Jadi, saya menjalani kerja dengan motivasi uang.
"Tidak apa-apa pulang malam. Toh dapat uang lebih banyak".
Ternyata itu adalah motivasi yang salah. Sebagai pengikut Kristus,
motivasi kita adalah menjadi garam dan terang dunia. Keberadaan kita dalam
suatu tempat adalah untuk membuat lingkungan kita menjadi lebih baik. Uang
hanyalah efek samping yang didapat. Karena itu, uang tidak boleh dijadikan
motivasi. Puji Tuhan. Ia telah mengingatkan saya pada saat yang tepat.
Saat saya merenungkan hal itu sambil bekerja, saya bisa rasakan ada aliran
baru yang mengalir dalam hati saya.
Hari itu, walau diujung deadline, saya masih bisa tersenyum. Bahkan saat
tahu kalau deadline tidak tercapai sepenuhnya, pulang jam 12.30 pagi ban
mobil kempes, dan harus memanjat pagar rumah yang sudah terkunci. Saya
tahu saya tidak sendiri. Tuhan tetap menyertai saya dan sukacita dan damai
luar biasa tetap saya rasakan.
Tuhan Yesus memberkati.
